Sponge Bread (no egg bread)

image

Dalam nge-baking, jujur bagian yang paling aku ga suka adalah memisahkan kuning dan putih telur. Terutama untuk membuat cake. Menyebalkan itu ketika di butir terakhir, kuning telurnya pecah dan tumpah ke dalam putih telur. Akhirnya, memilih metode seperti ini: siapkan 1 wadah kecil untuk putih telur, jika putih dan kuning telur sukses terpisah, putih di wadah kecil bisa lsg dimasukkan mangkok mixer. Ulangi di setiap butirnya. Metode seperti ini meminimalisir kerugian rusaknya putih telur akibat terkena setitik kuning telur. Diihhh ribet! Karena basically aku tipikal orang yang kurang telaten untuk hal-hal kecil. Jadi, metode tuang-isi putih telur dari wadah kecil ke mangkok mixer, sering membuatku habis kesabaran.

Well anyway, sesuai judul kali ini aku mau ngebahas roti. Setelah sekian lama berseluncur ke berbagai resep roti, dimana aku sangat terobsesi ingin bisa bikin roti empuk sendiri di rumah hingga rela merogoh kocek dalam-dalam demi mixer bosch universal yang terkenal tangguh mengulen adonan roti, aku mengenal berbagai resep roti empuk, dan hampir semua resep roti empuk menggunakan telur. Tapi yang paling sering digunakan untuk resep roti empuk adalah kuningnya saja. Ya, kuning telur digadang-gadang sebagai formula pengempuk dalam sebuah resep roti. Beruntung, aturan memisahkan kuning dan putih telur untuk roti tidak seketat cake, dimana cake sama sekali menolak jika putih tercampur kuning meski hanya setitik. Roti masih lebih ramah karena toh yang dipakai adalah kuningnya, jadi si putih hanya akan menjadi sisa bahan tidak terpakai, beruntung karena terkadang putih bisa digunakan lagi sebagai perekat bakwan jagung atau pengental tepung pisang goreng.

Hingga suatu hari, dari group Langsungenak di facebook, aku menemukan resep roti empuk tanpa telur. Sebenarnya ga sengaja, karena dari group yang disebutkan adalah sponge bread. Pikirku, sepertinya oke kalau ada roti yang bisa “kembali ke bentuk semula”. Ya, karena aku lelah dengan roti empukku yang sebelumnya, begitu ringkih ketika dipegang, langsung meninggalkan jejak-jejak jari tangan yang membuyarkan kecantikan. Berangkat dari situ akhirnya mencoba. Dan ternyata benar, ketika ditekan, roti bisa kembali ke bentuk semula. Dan ga cuma itu, ternyata rasanya juga enak banget! Persis seperti roti empuk impian! Ini agak surprise karena aku terbiasa memandang sebelah mata kepada resep roti yang eggless. Ternyata, we also cannot judge the bread by its egg ya, guys! Serius!

Baiklah, aku akan mulai dengan resepnya:

500 gr tepung
3 sdm susu bubuk
1 1/2 cup + 3 sdm uht cair (hangatkan)
1 bungkus ragi (11 gr)
1/2 cup gula pasir
1 sdt garam
8 sdt butter

Additional butter untuk polesan

Caranya:
1. Tuang susu hangat, masukkan ragi dan gula, aduk hingga gula dan ragi larut. Biarkan sekitar 10 menit hingga berbusa. Raginya mungkin akan tampak bergerindil, tidak apa-apa, kalau memang susah larut, ga usah dipaksa, larutkan saja semampu kamu hehehee..
2. Sambil menunggu campuran ragi-susu berbusa, masukkan tepung dan susu bubuk. Aduk rata.
3. Setelah ragi-susu berbusa, tuang ke tepung. Uleni hingga cairan sudah dirasa tercampur rata di tepung.
4. Masukkan garam dan butter, uleni hingga elastis atau adonan telah terlihat lembut dan licin. Mungkin kamu akan menemukan hasil akhir adonan yang lembek dan lengket, tidak apa-apa, lanjutkan saja. Pastikan adonan sudah mencapai kondisi lentur dan permukaannya licin.
5. Diamkan di mangkok besar yang sudah dioles tipis margarin selama kurleb 1 jam, jangan lupa ditutup serbet.
6. Setelah 1 jam, kempiskan adonan, uleni sebentar untuk memastikan udaranya keluar semua.
7. Bentuk bulat-bulat, kurang lebih sebesar bola pingpong, tata di loyang yang sudah dioles margarin, diamkan lagi 1 jam.
8. Panggang suhu kurleb 180dercel selama 15-20 menit. Kamu akan menemukan permukaan roti menjadi kecoklatan. Setelah matang, panas-panas poles butter. Siap disantap.

image

Serat-serat seperti kapas impian yang menjadi kenyataan :mrgreen::mrgreen:

Sesungguhnya sumber asli resep adalah dari youtube, kamu bisa coba lihat di sini. Jadi resepnya sudah aku modif, aku kalikan dua karena resep asli hanya menggunakan sekitar 250 gr tepung. Aku sesuaikan dengan kapasitas mixer yang minimal 500 gr tepung. Takaran gula juga aku tambah karena rasa aslinya adalah cenderung asin dimana aku lebih suka roti rasanya manis.

Suka banget sama roti ini. Selain rasanya enak: manis, gurih, wangi butter dan empuk persis seperti roti empuk impian, bikinnya ga ribet karena ga ada si telur, semua tinggal tuang dan cemplung-cemplung, sisanya biar mixer yang kerja. Kecuali di bagian bulet-buletin yak hehehee…aku bahkan lebih suka roti ini ketimbang roti ubi yang sebelumnya jadi primadona.

Bye bye deh sama kupas dan kukus ubi, lalu ubinya dibejek-bejek di saringan tepung untuk dijadikan pure. Lalu sesi memisahkan kuning dan putih telur yang kerap bikin aku habis kesabaran, semuanya, bye bye!

Ditambah, orang rumah ternyata juga pada doyan. Termasuk Jamesha hehehee.. Senangnya hatiku!

Cuma sayang, aku belum punya ide untuk menjadikan roti ini sebagai bakulan (ya tetap, bisnis harus selalu diupayakan), karena meski tanpa telur, ternyata modal bahannya masih mahal. Sementara untuk konsumsi sendiri dulu saja. Tapi kalau ada yang mau pesan, saya buka pintu lebar-lebar. Tafadhol.

image

Thank you ya, sponge bread. U are officially my current best buddies!

Tanggung Jawab

Makan malam, kita mulai habis solat magrib. Pijakan awal,
“kita bertanggungjawab terhadap makanan kita yaa…”
Jamesha: iyaaaa…
Ibu: sudah siap makan?
Jamesha: siaappp
Ibu: siap bertanggungjawab?
Jamesha: siaapp

Lalu membaca doa sebelum makan, setelah sebelumnya ibu memgambilkan nasi di magic com dan lauk di kompor untuk jamesha.

Tidak lama, makanan di piring ibu sudah habis, tuntas.
Ibu: ibu bertanggungjawab terhadap makanan ibu, ibu menghabiskan makanan ibu.
Jamesha: (masih ngunyah, nasi hangat lauk semur ati ayam, sambil melirik piring ibu yang sudah licin)
Ibu bergerak cuci piring. Selesai cuci piring ibu mendengar Jamesha berbicara kepada mama (nenek)

Jamesha: ma, ga mau sudah kenyang.
Mama: ya sudah, tarok aja

Ibu melihat nasi di piring Jamesha masih ada sisa sekitar 2 suap lagi. Padahal tadi nasi yang ibu ambilkan sedikit, sekitar 2 sendok makan.

Ibu: Jamesha, boleh bertanggungjawab terhadap nasinya.
Jamesha: ga mau, sudah kenyang!
Ibu: boleh dicoba dulu..

Dan drama pun dimulai. Jamesha mulai keukeuh tidak mau menghabiskan. Mama diam saja, menuntaskan makanannya lalu melipir.

Ibu: masih ingat tadi aturan sebelum makan? Apa yang kita lakukan?
Jamesha: (geleng-geleng, mungkin belum siap konsep patuh pada komitmen, belum siap mengikuti aturan)

Jamesha mulai menangis, kalau mendengar nada tangisnya, antara kesel, marah, lalu minta dikasihani.
Mama juga mulai tidak nyaman mendengar tangisnya. Lalu berkata,
Mama: Nangis terus. Pusing.

Mungkin nanti aku akan bicara ke mama tentang “berkata yang baik atau diam” atau “perkataan yang baik adalah sedekah”. Nanti. Ga bisa langsung on the spot. Harus lihat suasana hati dan bahasa tubuhnya dulu.

Well, mungkin akan lebih mudah buatku dan lebih menenangkan buat mama untuk mengabulkan keinginan anak ini, tapi, seseorang harus membangun sebuah konsep tanggung jawab kan?
Maksudku, jika sedari kecil sudah siap bertanggungjawab terhadap nasi di piring, diharapkan kelak ketika dewasa Jamesha sudah siap bertanggungjawab terhadap hal yang lebih besar. Tanggungjawab terhadap pasangan hidup yang sudah dipilihnya, mungkin. Atau tanggungjawab terhadap anak yang telah dilahirkannya kelak.

Jamesha: haus
Ibu: silakan, ada gelasnya di situ (mengarahkan tangan ke meja dispenser)
Jamesha: (bergerak turun dan mengambil minum sendiri. Sudah disediakan gelas plastik untuknya)
Selanjutnya, berkata lagi dia,
Jamesha: ingus
Ibu: ya, kalau ada ingus kita butuh apa?
Jamesha: (turun lagi mengambil tisu di meja sebelah meja makan dan mengusap ingusnya)

Tik tok tik tok.. Adzan Isya berkumandang. Tangisnya mulai reda. Ibu mulai pijakannya,
Ibu: Jamesha ingat doa sesudah makan?
Jamesha: (diam)
Ibu: (membacakan doa sesudah makan berikut artinya), “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan ini sebagai rezeki, (dst)..”
Jamesha: (mulutnya ikut komat-kamit mengikuti doa yang ibu ucapkan)
Oke, emosinya mulai reda. Berarti pijakan bisa dilanjutkan.

Ibu: tahu kah Jamesha, tadi arti doa sesudah makan, bahwa makanan adalah rezeki dari Allah?
Jamesha: (diam)
Biasanya kalau bahasa tubuhnya diam begini, besar kemungkinan dia sedang menyimak ucapan ibu. Ko tahu, bu? Iya, karena kalau dia menolak, biasanya dia tidak akan diam. Masih akan geleng-geleng dan menangis.
Oke, lanjut!
Ibu: Apa yang terjadi kalau nasi yang berupa rezeki dari Allah ini belum dihabiskan dan terbuang?
Jamesha: (memandangi nasinya yang bersisa di piring)
Ibu: tahukah Jamesha, di tempat lain ada segolongan orang yang tidak mampu membeli nasi? Tidak punya uang untuk membeli nasi. Bahkan yang mereka lakukan adalah mengais tempat sampah untuk mencari sisa-sisa makanan. Jamesha tahu tempat sampah?
Jamesha: (diam)
Ibu: itu loh tempat sampah yang kotor dan bau. Jamesha tempat sampahnya di mana ya?
Jamesha: (langsung menunjuk tempat sampah di dapur belakang)
Ibu: lihat, betapa Allah telah melimpahkan banyak rezeki berupa makanan di dapur kita hari ini. Di saat di tempat lain ada segolongan orang mengais tempat sampah untuk mencari makanan, lihat lah betapa berlimpahnya rezeki berupa makanan di rumah kita. Ada nasi, ada ayam, ada kerupuk, ada bahan2 buat bikin kue..
Jamesha: ada makanan, ada minuman, ada buat bikin kue…
Ibu: ya betul, ternyata kita punya banyak makanan ya. Tapi lihat, nak nasi di piring Jamesha masih bersisa, mau coba dihabiskan?
Jamesha: (geleng-geleng)
Ibu: mau dicoba dulu?
Jamesha: (geleng-geleng)
Ibu: kalau begitu ibu tunggu sampai Jamesha siap. Sementara menunggu Jamesha siap, ibu izin mau sholat Isya dulu yaa. Jamesha ibu tinggal sebentar…
Jamesha: (geleng-geleng) nanti Mesha sendirian ga ada yang temani.
Ibu: kalau begitu nasinya bisa segera dituntaskan.

Ada kali 1 jam memberi pijakan kepada Jamesha, hingga akhirnya dia mau menghabiskan nasinya sampai tuntas. Dengan bantuan disuapi ibu, akhirnya nasi di piring Jamesha habis. Bayangkan saja, kita masuk dapur ba’da magrib, keluar dapur ba’da Isya.

Setelah selesai, Ibu sempatkan lagi mengajak Jamesha duduk sebentar,
Ibu: Alhamdulillah, terima kasih Jamesha sudah bertanggungjawab terhadap nasinya. Selamat yaa.. (mengajak Jamesha berjabat tangan, Jamesha menyambutnya dengan suka cita)
Ibu: lain kali, bagaimana aturannya ketika makan.
Jamesha: Tanggungjawab!!
Ibu: ya, betul! Apa yang kita lakukan terhadap nasi di piring kita? Kita habiskan sampai..?
Jamesha: sampai tuntas!!
Ibu: ya. terima kasih yaa… (kali ini mengajak pelukan. Beberapa detik. Lalu kami masuk kamar)

Mungkin masih terselip kalimat negatif di pijakannya. Mungkin masih belum memberi kesempatan Jamesha untuk mencoba menjawab sendiri pertanyaan yang disampaikan. Well, ternyata, aku juga masih butuh banyak belajar perbendaharaan kalimat positif di pijakan dan lain kali bisa memberi Jamesha kesempatan untuk menjawab sendiri pertanyaan yang disampaikan.

Sekian episode tanggungjawab kali ini. No iming-iming hadiah. No bohong-bohong. Semacam,
“ayok nasinya dihabiskan, kalo habis nanti boleh jajan.” Atau
“ayok nasinya dihabiskan, nanti nasinya nangis.”

Berapa banyak/sering kita menyaksikan perbuatan-perbuatan manusia dewasa yang terlihat minus di mata kita. Merusak dan merampas harta milik orang lain, misalnya. Atau manusia-manusia dewasa yang tanpa beban rela mendzalimi tetangganya yang janda yang tidak berdaya. Misalnya. Misalnya.

Sikap demikian tidak terbentuk begitu saja. Seseorang tidak begitu saja menjadi pencuri atau berbuat dzalim kepada tetangganya. Besar kemungkinan, ada konsep yang belum sempat dibangun sejak kecil. Mungkin belum sempat dibangun konsep tanggungjawab. Atau belum sempat dibangun konsep sebab akibat. Sayang sekali bukan? Sekiranya dia bisa menjadi manusia yang bermanfaat, malah sebaliknya.

Ternyata untuk ini Allah kasih aku jalan untuk hijrah ke dunia pendidikan. Masih aku ingat pertanyaan yang pernah aku sampaikan ke narsum di suatu kelas pelatihan parenting,
“Ibu, apakah sebuah sekolah bisa menciptakan generasi-generasi pemimpin sebagaimana visi dan misi luhur yang telah dibuat? Karena anak-anak ini, bagaimana pun, durasi hidupnya lebih banyak di luar sekolah. Mereka di sekolah hanya dari pagi sampai siang. Jam 7 pagi sampai maksimal jam 2 siang. Sisanya mereka bersama orang tua masing-masing. Padahal, tidak semua orang tua well educated di pengasuhan anak?

Berhubung narsumnya juga keren banget ilmunya, ketika beliau menjawab iya dengan percaya diri. Semangatku pun berkobar. Aku langsung sumringah. Ternyata bisa! Baiklah.

Tapi, bagaimanapun sekolah tetap harus membangun komunikasi yang baik dengan orang tua murid. Sekolah tetap harus melibatkan orang tua, mengajak orang tua untuk menerapkan pola pengasuhan yang seragam.

image

Leadership generation starts from you

Cheddar Cheese Cake

image

Uglala :-D

Cheese cake layak jual pertamaku :D

Jatuh cinta sama rasanya. Dulu di pikiranku, menikmati cake semacam ini hanya bisa di resto atau cafe atau hotel bintang lima. Dibuat oleh pastry chef profesional. Harga yang mahal, dan belum lagi ingredient kue yang status kehalalannya juga wallahu’alam. Tampak seperti kudapan mewah yang hanya bisa dinikmati lewat angan-angan atau foto. Wkwkwkwk! Lebay ah!

Dan lalu, siapa sangka ternyata si cake mewah ini bisa keluar dari oven di dapurku sendiri. Ternyata aku bisa membuatnya sendiri. Ingredient-nya aku pilih yang sudah berlabel halal. Rasanya? Sama persis seperti angan-anganku jaman dulu. Cake keju lembut yang lumer di mulut, semakin nikmat ketika disantap dingin. Ah! Ge-er nian bisa membawa cake ala pastry chef ke dapur sendiri :-D :-D

Awalnya memang karena ga punya stok  cream cheese. Tapi ternyata lewat blognya Bunda Ricke, ada chesse cake yang bisa dibuat hanya dengan keju cheddar dan susu UHT.

Baiklah, ini dia resepnya. Aku ambil dari resep orange cheddar cheese cake Bunda Ricke, tapi aku modif dengan hanya menjadi CCC karena skip orange dan diganti air jeruk nipis saja.

215 gr susu cair
215 gr keju cheddar parut
70 gr butter, suhu ruang

35 gr tepung segitiga
25 gr tepung maezena
5 kuning telur

5 putih telur
125 gr gula pasir
1 sdm air jeruk nipis (aku dari 1 buah jeni saja)

Caranya:
1. Siapkan loyang bulat, aku pake yang 20 cm. Oles margarin. Alasi bagian dasar loyang dengan baking paper, oles lagi margarin;
2. Panaskan susu dengan api kecil hingga terlihat pinggirnya mulai mendidih. Masukkan keju, aduk rata. Masukkan butter, aduk rata. Keju akan tampak masih bergerindil. Tidak apa2. Angkat. Biarkan hangat;
3. Masukkan tepung, aduk rata. Masukkan kuning telur aduk rata;
4. Kocok putih telur dan air jeni hingga berbusa. Masukkan gula pasir bertahap. Kocok kecepatan tinggi hingga jambul petruk. Di bagian ini mulai panaskan oven. Api kecil atau suhu 150 dercel;
5. Ambil 1/3 bagian putih telur, tuang ke adonan keju. Aduk balik merata. Tuang campuran putih telur + adonan keju ini ke sisa putih telur, aduk balik hingga betul-betul merata;
6. Panggang au bain marie selama sekitar 75-90 menit atau hingga permukaan golden brown;
7. Keluarkan dari oven. Keluarkan dari loyang setelah keju benar-benar sudah dingin.

image

Cihuuy!! What a cheese!! :-D

Jangan nge-baking ketika tubuh sedang cape, apalagi sedang tidak mood. Nge-bakinglah dengan hati suka cita. Dijamin, yang keluar dari oven adalah mahakarya.
Selamat mencoba!

Chocolate Mousse Cake

image

Cihuuy posting di blog lagi. Setelah sekian lama. Sudah berapa lama ya kira-kira? Well anyway, aku mo posting lagi resep baru. Baru eksekusi maksudnya, karena resepnya juga nyontek. Seperti biasa, kali ini ke Bunda Ricke lagi. Terima kasih ilmunya ya, Bun..

Aku suka banget sama kue ini. Dan berkat eksekusi resep ini, jadi banyak latihan aduk balik. Alhamdulillah, cake-nya sukses mekar. Intinya, pastikan telur dikocok sampai betul-betul jambul petruk. Tandanya adalah berjejak, permukaan halus licin, dan ketika whisker diangkat akan membentuk kerucut melengkung ujungnya seperti jambulnya petruk, juga kerucutnya kokoh, tidak jatuh.

Kemudian, pastikan mengaduknya sampai rata. Kalau aku, tepung aku masukkan bertahap 3-4 kali. Sedangkan campuran butter-dcc aku masukkan setelahnya. Juga diadukbalik hingga benar2 rata, tidak ada gumpalan butter-dcc sedikitpun.

Masukkan adonan mentah ketika oven sudah betul-betul mencapai panas yang dibutuhkan. Insyaa Allah, kalau semua step diikuti exactly the same, cake akan sukses mekar bebas bantat :D
image

Oke, ini resepnya, aku skip white chocolate mousse:

5 butir telur (aku pakai ukuran besar)
75 gr gula pasir
1 sdt emuslifier
1/2 sdt vanila

70 gr terigu
30 gr coklat bubuk
10 gr maezena
1 sdm susu bubuk

50 gr butter
40 gr DCC cincang

1. Siapkan loyang bulat 22 cm. Oles margarin. Alasi kertas roti. Oles lagi margarin;
2. Campur ayak terigu, coklat bubuk, maezena dan susu bubuk. Sisihkan.
3. Tim butter + DCC hingga meleleh. Aduk rata hingga tampak licin.
4. Kocok telur, gula pasir dan emulsifier hingga jambul petruk. Masukkan vanili, aduk rata pelan saja pakai spatula.
5. Masukkan bertahap campuran terigu yang sudah diayak. Aduk balik merata. 6. Aku mulai menyalakan oven di 180°C ketika mulai masukkan tepung.
7. Masukkan DCC+butter, aduk balik sampai betul-betul rata.
8. Panggang 30-38 menit. Tes tusuk bila perlu. Keluarkan dari oven. Tunggu agak hangat, keluarkan dari loyang, dinginkan di rak kawat.

Chocolate Mousse:
110 gr susu cair (dalam hal ini timbangan digital akan sangat membantu)
5 gr gelatin
2 sdm air
175 gr DCC cincang
300 gr whipped cream (100 gr whip cream bubuk + 200 ml air es. Kocok hingga kaku)

1. Aduk rata gelatin dan air, diamkan hingga air terserap menjadi gel;
2. Panaskan susu cair, api kecil hingga pinggirnya mulai mendidih. Matikan api;
3. Masukkan gelatin, aduk rata sampai larut. Tuang ke DCC. Aduk rata hingga DCC meleleh sempurna. Diamkan hingga hangat kuku;
4. Masukkan whipped cream bertahap. Aduk rata.

Penyelesaian:
1. Belah cake menjadi 2. Cake siap dibelah ketika sudab betul-betul dingin. Aku membalik cake sehingga bagian bawahnya yang rata menjadi di atas. Tidak pakai ditrim. Sayang aja gitu kalau ada bagian cake yang tidak dipakai. Sekalian agar cake terlihat tinggi :D
2. Siapkan loyang ring. Yang aku punya ukuran 22 cm juga. Letakkan selembar cake, tuang choco mousse, timpa selembar cake lagi. Masukkan freezer. Kalau membuatnya dari sore/malam, besok pagi bisa dipindahkan ke chiller.
3. Lepaskan loyang ring dengan bantuan hairdryer. Ratakan choco mousse di bagian pinggir cake menggunakan pisau;
4. Siram chocolate ganache, ratakan dengan cara menggerak-gerakan si cake. Jangan dipoles pisau ya, bisa hilang kinclongnya si ganache. Simpan lagi di chiller hingga ganache set. Sajikan dingin. Hhhhmmmm yumeehh :p

image

Base choco sponge cake yang sudah jadi dan aku balik, bawah jadi di atas

Cara membuat ganache:
Didihkan (api kecil) 100 gr dairy whip cream cair, angkat. Tuang ke 100 gr DCC cincang. Aduk rata hingga licin. Masukkan 1 sdm minyak goreng. Aduk rata.

image

Setelah disiram ganache

Selamat mencoba ^ ^

image

Nyoklatnya nonjookkk!! Syukaaakkk

Bersama Ibu Elly Risman

Ballroom Hotel Jatra
Balikpapan, 29 Agustus 2015

Official parenting seminar pertamaku. Sejak bergabung di Ibnu Umar, mereka sudah banyak memberiku dan juga para staff pendidik lain kelas-kelas pelatihan, dan parenting. Namun memang di lingkungan Ibnu Umar saja, khusus. Nah yang ini resmi, untuk umum, kami datang langsung ke ballroom-nya. Bergabung dengan orang tua care parenting se-Balikpapan. Ciyeeehh asik nih :D

Mmm.. Di usia yang sudah tidak muda, 64 tahun, Bu Elly mengabdikan hidupnya menjadi pakar parenting. Kalo aku lihat spesialisasi dia lebih ke sex edukasi sepertinya ya..

Di awal seminar beliau memaparkan, fenomena yang terjadi saat ini, keprihatinan kita semua akan maraknya kejahatan korupsi. Kekecewaan kita dengan kinerja pemimpin negeri yang jauh dari harapan. Ditambah parahnya kerusakan moral akibat pornografi yang ternyata telah menjangkiti anak-anak. Bu Elly mengisyaratkan bahwa sangat mungkin kerusakan anak berawal dari rumah. Ya tentu saja, karena sebelum anak-anak ini dewasa mereka dibesarkan dan dididik dalam sebuah lingkungan yang paling pertama, yaitu rumah dan keluarga. Rumah yang seperti apa, orang tua yang seperti apa akan menentukan kualitas anak-anak ini ketika dewasa.

Bu Elly menyampaikan bahwa pada dasarnya setiap ortu tidak siap menjadi ortu. Dengan demikian, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang istri/suami, kemudian menjadi seorang ibu/ayah, orang tersebut harus belajar. Untuk mendidik anak menjadi generasi penerus yang kelak akan menjadi pemimpin, orang tua tidak cukup hanya berbekal cinta dan insting, tapi juga ilmu. Berapa banyak orang tua mengaku cinta pada anak tapi memukul? Berapa banyak orang tua mengaku cinta tapi tidak tahu cara memeluk dan meminta maaf? Berapa banyak orang tua mengaku cinta tapi membiarkan anaknya terpapar televisi dan gadget? Berapa banyak orang tua mengaku cinta tapi selalu memenuhi apa saja, sekali lagi, apa saja keinginan anak? Tahukah mereka jika sikap demikian akan mencetak manusia dewasa yang seperti apa?

Anak dipukul bisa jadi dewasanya akan menjadi orang yang tidak percaya diri, susah beradaptasi, minder, bahkan lebih mungkin mengulang pengalaman kekerasan fisik tersebut kepada anaknya. Begitu seterusnya hingga sejarah pun terulang.

Anak yang tidak pernah dipeluk dan menerima ucapan maaf bisa jadi dewasanya akan menjadi orang yang juga tidak percaya diri, susah beradaptasi, minder, tidak paham konsep tanggung jawab, dsb.

Anak yang sejak kecil sudah banyak terpapar televisi dan gadget, tidak perlu lihat hingga dia dewasa, lihat saja tahapan perkembangannya, lebih mungkin dia mengalami banyak ketertinggalan tahapan perkembangan. Waktu yang seharusnya dia gunakan untuk bermain dan belajar malah dialihkan dengan duduk manis memandangi televisi dan gadget. Belum lagi teori kerusakan otak dan kemunduran IQ yang dikemukakan banyak pakar terkait efek televisi dan gadget ini. Memang nyaman rasanya bagi orang tua, anak-anak mereka bisa anteng duduk manis sambil menonton tv atau gadget hingga ketiduran. Orang tua juga bisa nyantai, tidak banyak energi terkuras. Tapi lihatlah apa dampaknya bagi anak?

Anak yang sejak kecil selalu dipenuhi SEGALA keinginannya, ya tebak aja lah ya bagaimana kelanjutannya..
Tapi aku gatel pengen tulis :D
Bisa jadi ketika dewasa dia ga bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena orang tua cenderung mengambil alih masalah anak. PR ketinggalan, ortu yang sibuk turun tangan. Daripada anak disetrap, malu sama teman-temannya, lebih baik PRnya yang ketinggalan dianter ke sekolah. Tidak punya pendirian. Susah survive. Bossy, merasa berhak atas segalanya. Tidak bisa mengambil keputusan. Memutuskan jodoh mana yang hendak dipilih saja bingung, bagaimana mau jadi imam? Jadi kepala keluarga atau kepala rumah tangga?

Dan begitu seterusnya… Lebih mungkin apa yang diterima anak-anak sejak kecil akan mereka terapkan kembali ke anak-anak mereka. Sejarah pun berulang terus. Jika bukan dari kita yang memutus mata rantai tersebut, siapa lagi?

Masih aku ingat ketika beliau bertanya kepada peserta yang hadir,
“Siapa di sini yang waktu sebelum menikah sekolah untuk menjadi istri atau suami, kemudian menjadi ayah atau ibu..”
Tidak ada yang tunjuk tangan…
I was like, bener juga kata beliau bahwa pada dasarnya setiap orang memang tidak siap jadi orang tua. Karena memang tidak mempersiapkan apapun! Saya pribadi, dulu sekolah tujuannya untuk cari uang wkwkwkwk.. Ga kepikiran kalo kelak jadi istri dan ibu harus belajar dulu.

Fenomena pola asuh yang banyak terjadi saat ini adalah, banyak orang tua tidak paham cara berkomunikasi. Orang tua lebih banyak disibukkan dengan kegiatan lain yang dianggap lebih penting, ketimbang membangun komunikasi ideal dengan anak.

Trus bagaimana sih komunikasi baik, benar dan menyenangkan itu dengan anak?
Hehehe, singkat kalimat, aku cuma bisa bilang, kudu simak seminarnya langsung, tapi yang bisa aku tarik kesimpulan adalah,
Pertama, sebelum membangun komunikasi baik, benar, menyenangkan tadi, kitanya dulu yang dibaikin, dibenerin dan menjadi menyenangkan. Look inside diri dulu yang pertama.  Koreksi diri. Sebelum menjadi ortu yang baik bagi anak, tentu kita harus terlebih dahulu menjadi orang yang baik bagi lingkungan sekitar kita (orang tua kita, pasangan kita, sahabat kita, tetangga, saudara, dst).

Biasanya keluhan apa yang kita punya tentang anak. Kira-kira itu masalah siapa? Masalah anak kah? Atau mungkin malah masalah kita?

Misal: galau anaknya umur 6 tahun belom bisa baca tulis? Nah, itu masalah siapa? Masalah anak atau masalah kita? Bisa jadi masalah kita aja. Galau karena mungkin kita membandingkan anak kita dengan anak umur 2 atau 3 tahun, yang lebih muda 4 atau 3 tahun dari anak kita sudah pandai baca tulis. Nah, masalah kita kan? Padahal, apa salahnya umur 6 tahun belom bisa baca tulis? Anak kita bodoh? Lamban? Belom apa-apa kita udah nge-cap anak kan?

Tidak ada yang salah dengan “umur 6 tahun belom bisa baca tulis”, bisa jadi anak memang belom siap mempelajari itu. Ada kalanya dia akan siap. Kita lupa deh bahwa setiap anak adalah UNIK, jadi kita sibuk mencari perbandingan. Padahal buat apa dibanding-bandingin? Kita aja ga nyaman ya dibanding-bandingin, kenapa malah membandingkan anak? Hehehe…

Trus, kebanyakan ortu lupa didikan moral dan agama, karena terpaku dengan kompetensi akademis. Ortu sibuk cari tempat les baca tulis mutakhir, atau sibuk cari sekolah unggulan terkece, lupa,
“Tuh, si kecil ga tahu kalau makan/minum harus dengan tangan kanan dan tidak boleh sambil berdiri”
“Tuh, ga cuma anak perempuan, anak laki-laki pipisnya juga harus jongkok, bukan berdiri”
“Tuh, si kecil ga tahu cara beres-beres mainan habis bermain”,
“Tuh, si kecil ga tahu kalau habis beraktivitas di luar rumah, sepatu harus naik ke rak, bukan nongkrong di depan pintu”,
“Tuh, anak belom paham konsep menyelesaikan masalah dengan bicara”, atau
“Tuh, anak belom paham konsep mendengarkan dan berbicara bergantian…” Dan lain sebagainya. Which is mean, hal-hal tersebut di atas sudah bisa kita kenalkan sejak dini dan masih lebih penting ketimbang mahir baca tulis. Padahal sekali lagi, kelak anak kita akan menjadi manusia dewasa, akan menjadi seorang istri/suami, akan menjadi seorang ibu/ayah, akan menjadi seorang pemimpin. Entah seluas apa cakupan pimpinannya, toh jikapun wilayah pimpinannya hanya mencakup rumah tangga, menjadi istri dan seorang ibu misalnya, anak butuh bekal dan orang tua lah yang bertanggungjawab menyiapkan bekal tersebut. Namun, yang terjadi saat ini, apakah ada ortu yang menyiapkan anaknya untuk menjadi istri dan ibu? Mungkin ada, tapi mungkin jarang. Kebanyakan ortu ternyata lebih fokus ke pencapaian akademis. Ya ga?

Nah, setelah look in, apakah kita sendiri sudah baik, benar dan menyenangkan buat lingkungan sekitar (ortu kita, pasangan kita, sahabat, tetangga, dst, khususnya anak kita), jika memang belum, ya gak papa sih, namanya juga manusia, kan ga tahu. Manusiawi Hehehee…

Kedua, Perbaiki diri, ubah mind set, ubah pola komunikasi, siapkan waktu. Singkirkan gadget dan televisi yang hanya akan merusak quality time kita dengan keluarga. Ini jadi pelajaran buat aku juga. Meski sudah bisa nyaris tidak menyuguhkan acara tivi ke Jamesha, ternyata aku belum menyingkirkan gadget. Masih sering, seriiiiing banget aku lebih sibuk sama gadget ketimbang ngobrol sama Jamesha.

Nah tentang televisi ini, sebenernya udah pengen aku kardusin, pengen aku masukin gudang. Tapi tar deh, aku pikirkan lagi, gimana caranya agar tv bener-bener hilang dari peredaran Jamesha. Hehe..

Nah, setelah perusak-perusak quality time dengan anak disingkirkan, komunikasi bisa segera dibangun. Ciptakan suasana ngobrol yang menyenangkan. Setelah pulang dari beraktivitas seharian, siapkan senyum lebar dan muka berseri-seri untuk anak. Alhamdulillah jika masih ada yang punya bocah ingusan yang antusias sampai jingkrak-jingkrak menyambut kedatangan kita. Ga usah disuruh, melihat ini mungkin kita udah bisa senyum sendiri. Sambut dia, peluk, belai, cium. Afaik, anak usia 0-6 tahun butuh banyak2 dipeluk, belai dan cium sama ortunya. Good for them :D

Kalau biasanya kita pulang dengan raut cape dan (kadang) cemberut, alih-alih mendengarkan anak, biasanya langsung ganti daster, ambil hape, ngadem di kamar, dan mulai ‘online’. Anak cenderung dicuekin. (pengalaman, dan ke sininya sangat-sangat aku sesali. Apalagi waktu masih pakai babysitter, anakku lebih banyak dipegang mbaknya, ketimbang aku ibunya).

Merubah kebiasaan, kali ini mulai lah menjadi pendengar setia dan aktif. Biasanya anak banyaaak cerita kalo kita baru sampai rumah (lagi-lagi ini pengalaman. Hehehee). Baca bahasa tubuhnya. Bahasa tubuh anak, kalo menurut aku sangat mudah dibaca karena biasanya anak itu ekspresif, dia sedih, kesel, atau senang, pasti langsung dia tunjukkan. Misalnya kita mendapati anak kita air mukanya murung, biasanya anak terbangun semangatnya bercerita ketika kita berhasil menebak apa yang sedang dia rasakan tanpa dia menceritakan. Tatap matanya ketika dia bercerita, respon aktif, sesekali timpali dan jangan tergesa-gesa, jangan memotong. Anak tuh simple, konsep mereka cuma suka ga suka, enak ga enak, nyaman ga nyaman. Once anak sudah merasa nyaman, Insyaa Allah komunikasi ideal bisa kita bangun.

Namun terkadang, teori ga semulus praktek. Ya ga sih? Kadang masalah hidup yang berat telah begitu menyesakkan dada kita. Begitu beratnya hingga yang bisa kita ajak bicara hanya sajadah dan Allah. Jika sudah demikian, masih ada kah energi tersisa untuk membangun komunikasi dengan anak? Masih! Tentu saja, karena akhirnya kita termotivasi agar anak kita tidak mengalami pengalaman pahit seperti yang pernah kita alami. Kalaupun iya, kita bisa mempersiapkan anak-anak kita agar tangguh menghadapi masalah hidupnya kelak.

Di aku, mungkin beberapa sahabat sudah tahu apa yang tengah aku hadapi. Masalah hidup ini justru memotivasi aku untuk menyiapkan Jamesha agar kelak dia bisa menerima keadaannya. Bagaimana cara mempersiapkan anak yang tangguh, yang akhlaknya sesuai harapan kita? Tentu saja, itu semua dimulai dari diri sendiri dulu. Ingin punya anak soleh, ya ortunya duluan yang jadi soleh. Perbaiki diri, dekatkan diri kepada Allah sambil terus menuntut ilmu terutama ilmu agama dan ilmu parenting. Kembali lagi, sekolah-sekolah kita ga meluluskan sarjana menjadi istri, atau menjadi ibu atau menjadi single parent, karena itu ilmunya perlu kita pelajari sendiri.

Alhamdulillah, lagi-lagi Ibnu Umar banyak memberi pencerahan (Ibnu Umar lagi, Ibnu Umar lagi, tolong ya, ini bukan promosi :D), sampe-sampe mamaku komeng, kalau gaya bicaraku dan pola asuhku ke Jamesha sekarang jadi kayak ibu guru. Well, kadang kita memang lupa, rezeki itu bukan semata-mata harta dan materi. Kadang sebenarnya Allah sudah melimpahkan kita dengan rezeki yang jauh lebih berharga dari harta dan materi berupa: hidayah, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, dan teman-teman yang baik. Namun seringnya kita lupa. Seringnya kita masih merasa kurang. Gamis kurang banyaklah, jilbab kurang banyaklah, itu-itu mulu yang dipake. Ato ngeluh muka kusam karena belom sempet facial dan belum punya uang buat beli krim pagi dan tabir surya. Wkwkwkwk… Curcol inimah! Ya begitulah kita lebih banyak mencari kekurangan diri ketimbang mensyukuri apa yang sudah kita miliki.

Ya udah segini dulu, tampaknya aku sudah kehabisan ide. Untuk dikonfirmasi bahwa tulisan ini adalah hasil pemikiranku, kesimpulan yang aku dapat dan aku pahami dari seminar Ibu Elly Risman. Ini bukan summary isi seminar beliau. Kalo ada yang mau menambahkan ato merubah atau tanya-tanya, dipersilakan.

Tulisan ini aku tutup dengan sebuah kabar gembira dari sahabatku, kami memang belum lama kenal, but soon she is become my sister. Setelah menanti 2 tahun, akhirnya Allah berkehendak menitipkan sebentuk benih cinta dalam rahimnya. Pagi-pagi, ketika ruang seminar belum ramai, dia menghampiriku dan menunjukkan hasil tes pack-nya. Masyaaa Allah, betapa senangnya aku bisa menerangkan padanya bahwa hasil tes packnya positively definitly POSITIP! Meski kemudian aku himbau dia untuk segera memastikan ke bidan atau spog. Tapi hasil tes pack dari urine subuh yang menampilkan 2 garis yang sangat jelas, bagaimana kita bisa sanggah akurasinya? Yang bisa kita lakukan hanya tinggal ucap bismillah, and let USG showed and ensured. Saat itu tak terasa mataku berkaca-kaca karena haru, aku pun meraih tubuh sahabatku dan memeluknya karena ikut merasakan kebahagiannya. Beberapa detik, kami sempat mewek haru bersama. Momen beberapa detik yang menggambarkan indahnya mencintai sahabat karena Allah..
Masyaa Allah barakallah, semoga Allah memberikan kesehatan kepada ibu dan bayi, seterusnya hingga bayi lahir dan dewasa. Aamiin.

Selfie Story of The Day

Aku tuh suka takut-takut pasang foto selfie sebenernya. Tapi kadang ga tahan kalo fotonya udah lucu banget, kaya pas waktu selfie sama Jamesha. Yang bikin lucu ya Jameshanya. Lucu bgt Jameshaku di foto itu, walo mukaku udah ga karuan sebenernya (bukan fotogenik).

Eeehh sekalinya pasang foto selfie jadi dp bbm (dimana biasanya dp-nya foto roti wkwkwkwk), langsung ada yang minta nomer telpon (temen kerja dulu, emang sempet tukaran pin bebe, soalnya satu kerjaan walau beda divisi, tapi ga tukeran nomer hape), langsung nelpon, di waktu solat tarawih. Nyata ga kuangkat, bukan karena waktu solatnya, tapi ngapain juga nelpon kan? Ga ada perlunya. Paling tanya kabar. Tidak perlu. Mending dia telpon anak ato istrinya karena notabene dinasnya di lapangan.

Ujung-ujungnya doi bbm, kurang lebih isinya begini, “maap mba, iya saya juga lagi mo taraweh kok. Maap ga sempet order kemaren, ini udah naik lagi ke lapangan…”

Nah, bener kan, tadi nelponnya paling emang cuma buat tanya kabar doank. Ga penting.

Dih, lantas mikir, emang bener kata-kata nasehat para alim ulama kalo selfie itu banyak mudharotnya. Mungkin aku harus betul-betul berhenti pasang foto muka. Tapi yang mukanya ga kelihatan gpp kali yak #nego :D

Pernah baca-baca di ig Ummu-Ummu bercadar (niqab), kebetulan Ummu ini pahamnya cadar itu wajib. Terlepas apapun hukum cadar, dimana perbedaan pendapat yang terjadi adalah sunnah dan wajib, jangankan selfie, membuka wajah aja serem. Alasannya, cantik itu relatif. Maksudnya, di ikhwan A mungkin muka kita biasa aja, tapi siapa yang tahu di mata ikhwan B, C, D? Apa kita yakin wajah kita yang terbuka aman dari penyakit hati ikhwan yang memandang? Dalam hati orang siapa yang tahu?

Mungkin orang lain mikirnya, diiihhh sok kecantikan! Macam ratu aja!!

Lah, bukan kah memang seperti itu Islam memperlakukan perempuan? Tanpa memandang status sosial kita, apalagi bentuk fisik kita, dalam Islam, semua perempuan dimuliakan kan?
Dalam Islam, perempuan dikenal sebagai saudara, sister, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai madrasah pertama anak-anaknya. Bukan sebagai pacar, pemuas nafsu syahwat sesaat.

Kembali lagi, dalam hati orang siapa yang tahu kan? Yakin kah tidak ada ikhwan yang ga pake penyakit hati ketika memandang kita? Yakin semua mata bisa menjaga hatinya tetap bersih? Yakin? -_-

1 Ramadhan 1436H

image

Sesuatu adalah indah jika kita mau (sejenak) melihat lebih dekat, lebih dalam.

Jam 3 pagi, Balikpapan dibangunin untuk santap sahur sama suling Pertamina. Aahhh Ramadhan ini…

Alhamdulillah, aku percaya, semua Muslim, siapapun kamu, dimanapun, apapun latar belakangmu, pasti semua bergembira dan feeling blessed telah dipertemukan kembali dengan bulan penuh berkah ini.

Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Lebih ikhlas. Lebih banyak introspeksi. Usah pusing urusan orang lain, periksa diri sendiri dulu aja. Usah pusing pendapat orang lain, they might be telling u the truth. Ya kan? Kenapa engga? Karena kadang kita lebih gampang melihat kekurangan orang lain ketimbang diri sendiri.

Apapun yang tengah kamu alami, mungkin, I said, mungkin, ada kekhilafan dulu-dulu yang belum disadari atau diperbaiki. Minta ampun, pada Yang Maha Pengampun. Kepada Al Ghoffar (correct me if typo).

Selamat santap sahur, Semua. Menu apa nih? Karbo is a must kayanya yak hehehee..