02.45 AM

Faktanya, sering kali merasa diri ini belum menjadi ibu yang baik. Padahal berapa kali kan berdoa dalam hati atau terang-terangan minta diberi keturunan lagi. Ngurus Jamesha aja masih banyak kekurangannya, mo minta dikasi anak lagi. Hehehee..

Well, ga ada manusia yang sempurna. Tapi selama nafas masih di tenggorokan, ibu ga akan berhenti berguru padamu, Nak. Darimu aku belajar bahwa hakekat anak adalah bukan tentang banyak meminta, banyak maunya. Tapi tentang banyak memberi. Eeeaaa.. Kebanyakan baca-baca ayah edy inimah :D. Jadi kalo kata Ayah Edy, anak itu bukan banyak minta loh, Moms, tapi justru banyak memberi.

Menjadi single parent memang ada tantangan tersendiri. Anehnya aku malah memilih menjadi stay at home mother ketimbang mencari kerja lagi demi menghidupi kami berdua. Ya walau pun pada akhirnya sekolah Ibnu Umar yang dekat rumah menjadi pilihanku untuk melebarkan ladang mata pencarian.

Tapi entahlah.. Kadang mungkin orang mikir aku stress hehehe. Tauk deh, emak gue yang kapan hari ngatain gue stress. Ga usa tersinggung, mungkin saja beliau benar. Mungkin sudah terlalu besar peristiwa yang terjadi. Tapi akunya yang kurang tawadhu, kurang banyak dzikirnya.

Ya begitulah, Allah seolah ga berhenti memberi petunjuk-petunjukNya. Hidupku sebelum usia 25 memang flat banget. Kasarnya mah mungkin ga mutu. Ga ada peningkatan kualitas hidup (dalam hubungan sama Allah). Kalo ibarat grafik, garisnya rata, datar. Masa2 remaja yang dicari cuman senang-senang. Pengen bisa jadi anak gaul, pengen langsing, pengen cantik, pengen punya pacar. Ah, semu banget deh pokonya. Dunia kuanggap bukan tempat singgah, melainkan pencarian jati diri. Lupa hubungan spritual sama Allah.

Masuk usia 25, sesuatu membuatku memutuskan untuk memakai jilbab. Terjadi begitu saja, suatu pagi pas mau berangkat kerja, ngomong ke Mama pengen pakai jilbab. Dan kupakai lah. Masih hijab gaul sih, tapi di sini Allah sudah memberiku sebuah petunjuk. Masyaa Allah.

Dari datar, grafiknya naik di peristiwa first day hijab tersebut. Tapi trus datar lagi. Mungkin sedikit bergerigi gitu bentuknya karena lagi-lagi Allah menunjukkan, memulai pernikahan dengan cara yang salah hanya akan berakhir salah juga. Ya, ga lama setelah pakai jilbab, aku menikah. Dimulai lah babak baru.

Sebenernya niatnya udah lurus, ingin segera mengakhiri masa pacaran yang cuma akan numpuk-numpuk dosa. Tapi yaa saat itu Ilmu agamaku masih kayak jentik-jentik nyamuk di kolam, tuntunan (sesuai Quran & Hadits) dalam memilih pasangan hidup lupa aku masukin ke to do list. Lantas, terkuaklah, bahwa ternyata, seandainya waktu bisa diulang, aku tidak akan memilih dia.

Well anyway, setidaknya doi udah kasih aku Jamesha. Kalo ga pilih dia, mungkin aku ga punya Jamesha sekarang. Anakku, yang kalo bisa diulang lagi, aku akan tetap memilih kamu, nak. So, ungkapan salah pilih pasangan ini tidak perlu dibahas lagi karena bagaimana pun, di setiap kesalahan, Allah akan tetap kasih hikmah. Salah satunya mungkin ketika aku berhijrah. Begitulah cara Allah mencintai kita. Yes, He is love us! Masyaa Allah.

Setelah hampir 3 tahun grafik hidupku datar namun bergerigi, hingga akhirnya grafiknya jatoh! Terjun bebas ke bawah. Mulai dari kemantapanku untuk berpisah dan lalu kehilangan pekerjaan.

Aku benar-benar terpuruk. Ketukan palu Pak Hakim faktanya memang bikin lega. Bahkan sampai detik ini aku tidak pernah menyesali keputusanku itu. Malah bersyukur, karena menurutku, kalo maksa dipertahankan, salah satu dari kami bisa binasa. Entah aku, atau dia, atau mungkin anakku. Naudzubillahi min’dzalik!

Tapi kehilangan pekerjaan.. Aduh! Aku sama sekali belum siap karena pekerjaan itu adalah sandaran hidupku setelah kembali single. Aku butuh penghidupan untuk bertahan bersama anakku. Tapi toh, Allah tetap mengambilnya. Allah mengambil penghidupanku yang sejatinya memang cuma titipan. Mau bilang apa?

Grafik hidup terjun bebas kayak jurang di dasar samudera. Namun kembali, seolah Allah memberi petunjuk lagi. Grafik kemudian merangkak naik lagi. Di satu titik tiba-tiba aku bicara dalam hati sama diri sendiri bahwa, office working momma is really not my style of life. Pikirku, untuk apa cari kerja kantoran lagi? Sudah cukup Jamesha terpisah rumah dari Bapaknya, jangan lagi kutambah harus meninggalkan dia ke kantor.

Jamesha berhak aku dampingi sepanjang hari, setelah apa yang dialami orang tuanya. Dan di situlah kuputuskan untuk berhenti mencari lowongan kerja. Aku lalu melipir ke dapur, berkutat dengan tepung, oven dan kompor. Dimulailah babak baru yang lain. Jualan kue.

Demi Jamesha, aku banting setir jualan kue agar bisa tetap di rumah, menemaninya, bisa mengajaknya dan bersamanya kemana saja. Setidaknya aku percaya, inilah yang terbaik untuknya. Mama, aku tahu dia miris melihatku, melihat ijazahku yang mungkin akan cuma jadi perkakas gudang atau hiasan di lemari. Tapi aku juga tahu bahwa dia pun tahu aku lebih bahagia dengan keputusan ini. Lebih bahagia.

Grafik terus bergerak naik, maksudku, aku mulai mencintai hidupku yang baru. Dan lagi-lagi Allah kasih jalan aku bisa bergabung menjadi bagian keluarga Yayasan Ibnu Umar. Well, berdagang ternyata memang ga gampang, dan aku butuh back up. Setidaknya, Ibnu Umar bisa kasih penghasilan rutin walau mungkin jumlahnya beda dengan waktu masih di Total. Tapi justru lebih tenang dan lebih bahagia seperti ini. Dalam hidup, apasih yang kita kejar kalo bukan ketenangan dan kebahagiaan? Hehehe..

Ketika kamu bisa merasakan sebuah ketenangan dan kebahagiaan hakiki meski di tengah rintangan dan tantangan hidup yang lebih berat, di situlah kamu akan tahu bahwa kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Hatimu tersenyum, karena kamu bisa melihat atau setidaknya merasakan (mungkin) Allah pun tersenyum untukmu. Wallahu’alam bishowab.

Buat yang lagi jenuh, ingat lah, berapa banyak perempuan yang menginginkan posisi sepertimu saat ini. Ingat lah bahwa suami baik itu berkah dalam hidupmu. Surga di duniamu. Jangan sia-siakan. Berbakti dan tunduklah semampumu. Jika dia salah, tegur dengan cinta. Jika kamu yang salah, minta maaf, perbaiki diri. Let me tell you that, hidup sendiri tanpa pendamping itu ga enak. Apalagi kalo sudah ada anak. Kudu banyak belajar, kudu berusaha dan mencoba lebih keras lagi.

Namun jika suami dzalim, itu adalah ujian. Menurutku, jika kamu mampu bertahan, bertahanlah semampumu. Jika kamu terus melihat hal buruk dalam dirinya, coba lah cari dan gali hal baiknya. Namun jika kamu ga sanggup bertahan, jangan siksa dirimu. Istikharah, mohon petunjuk dan semoga Allah memberkahi apapun keputusanmu. Aamiin.

1 Ramadhan 1436H

image

Sesuatu adalah indah jika kita mau (sejenak) melihat lebih dekat, lebih dalam.

Jam 3 pagi, Balikpapan dibangunin untuk santap sahur sama suling Pertamina. Aahhh Ramadhan ini…

Alhamdulillah, aku percaya, semua Muslim, siapapun kamu, dimanapun, apapun latar belakangmu, pasti semua bergembira dan feeling blessed telah dipertemukan kembali dengan bulan penuh berkah ini.

Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Lebih ikhlas. Lebih banyak introspeksi. Usah pusing urusan orang lain, periksa diri sendiri dulu aja. Usah pusing pendapat orang lain, they might be telling u the truth. Ya kan? Kenapa engga? Karena kadang kita lebih gampang melihat kekurangan orang lain ketimbang diri sendiri.

Apapun yang tengah kamu alami, mungkin, I said, mungkin, ada kekhilafan dulu-dulu yang belum disadari atau diperbaiki. Minta ampun, pada Yang Maha Pengampun. Kepada Al Ghoffar (correct me if typo).

Selamat santap sahur, Semua. Menu apa nih? Karbo is a must kayanya yak hehehee..

Lebih Bahagia (bag. 2)

Di satu hari waktuku habis di dapur nyiapin orderan buat hari esoknya. Lumayan menguras tenaga karena biasanya ada Mama yang bantuin. Kebeneran Mama lagi mudik ke Madura, ada nikahan sepupu. Tadinya udah cemas, takut Jamesha rewel, tapi ternyata seharian itu, mulai dari siang, sampai menjelang larut malam, Jamesha bisa mengandalkan dirinya sendiri. Bolak balik nonton ato bongkar2 segala apa yang bisa dibongkar, sepedaan dalam rumah dan sesekali nengok ibunya ke dapur, gratakin adonan sus mentah atau ber-playdoh sama adonan roti mentah, lalu minta gendong.

“Bu endong bu”, pintanya sembari menengadahkan tangan kecilnya minta diangkat.
“Ibu lagi bikin kue sayang. Buat dijual, biar kita bisa dapat uang nanti..”, jawabku yang ga tega nolak sebenernya. Dan dia langsung menurut aja, lalu kembali mencari keasikan sendiri.
Kasian dia, sudah tampak bosen dan cape, mungkin udah pengen bobo dikelonin ibunya. Tapi yang ada dia bisa menyibukkan dirinya sendiri dan membiarkan aku menyelesaikan tugasku di dapur..

Demi anak ini, aku banting setir jualan kue agar bisa tetap di rumah, menemaninya, bisa mengajaknya dan bersamanya kemana saja. Setidaknya aku percaya, inilah yang terbaik untuknya. Mamahku, aku tahu dia sedih melihatku, melihat ijazahku yang mungkin akan cuma jadi perkakas gudang atau hiasan di lemari. Tapi aku juga tahu bahwa dia pun tahu aku lebih bahagia dengan keputusan ini. Lebih bahagia.

Ketika kamu bisa merasakan sebuah ketenangan dan kebahagiaan hakiki meski di tengah rintangan dan tantangan yang lebih berat, di situlah kamu akan tahu bahwa kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Hatimu tersenyum, karena kamu bisa melihat atau setidaknya merasakan (mungkin) Allah pun tersenyum untukmu. Wallahu’alam

Maaf, Aku Ga Ikutan Acara Peringatan Kematian

Ma, maapkan anakmu ini yg ga bisa nyupirin ke acara peringatan 1 tahun kematian seorang kerabat kita. Aku takut ma. Takut Allah murka. Jika semua tergantung niat, buat apa ada aturan? Buat apa ada dalil? Islam itu kadang ga pake logika, tapi pake dalil.

Maap harus ngebiarin Mama jalan kaki sendirian, malam-malam begini. Mama kan ngerti, tolong menolong dalam kemungkaran adalah dilarang. Maap Ma, semoga Mama ngerti sikapku ini. Tak lain hanya ingin taat kepada Allah.

Ya Allah, semoga Engkau mengampuni aku sudah bikin mama kecewa..

Apalah Ini Share Info Cyantiikk

Bukan iklan, bukan promo, bukan ge-er juga. Kemaren ber-cheating day sama mba siska and she said that muka aku bersih, halus.

Suer deh, pernah ngalamin yg dulu kulit muka berasa kering, trus dikit-dikit jerawat sebiji-2biji muncul, trus kusem kumus-kumus gitu kayak ga pernah pake pelembap.

Ga tahu deh, ceritanya mo share info cantik aja. Tapi lately aku tuh pake pembersih muka milk cleanser sama toner-nya wardah. Jadi bersiin muka 2x sehari. Pake milk cleanser dulu, trus cuci muka (aku pake sabun mandi bayi yang jonson-jonson varian rice and milk), trus pake toner, trus pake pelembap.

Klo rangkaian perawatannya pake LBC. Krim siang, malam, tirai-nya. Trus peeling-nya di LBC juga. Peelingnya sempet sekitar 2-3 kali aja, trus belum pernah peeling lagi.

Emang setelah pake milk cleanser ini, muka tuh berasa halus kenyal gitu. Awalnya ga sengaja. Mo ambil toner, pas sampe rumah ternyata milk cleanser. Udah aja diterusin pakenya. Skr udah habis sebotol, setelah dipake bbrp bulan. Awet juga. Pakenya secukupnya aja, ga usa sampe bleberr. Rencana mo beli lagi krn yg sebotol itu udah abis.

Mungkin kuncinya emg di pembersihan kali yaa..disamping pernah bbrp kali peeling juga di LBC, tapi itu juga ga rutin.

So, yang kulit wajahnya agak-agak bermasalah sama kering dan kusam, mungkin cara aku bisa dicoba.

Catatan: kulit aku ga putih, dan ga pernah pake perawatan dan mutih2in. Tujuannya adalah cuma buat lembap dan bersih dan ga kusam aja. Ga usa putih2, soalnya dari orok udah sawo mengkal hehehee…

Kemudian, hati2 penggunaan kapas. Jangan digosok keras. Lembut aja. Soalnya katanya kalo digosok keras bisa meninggalkan flek nantinya. Cmiiw.

Udah gitu, make up yg aku pake cuma lipstik yang warna natural, hampir mendekati rona bibir aja. Ga pake bedak, eye liner, maskara, dan apalah-apalah make up gadget lainnya. Why? Just because I’m simply looks older even with soft and light make up. So I’m leaving the make up behind. :D

Ya udah segitu aja.

C’est La Vie

Inilah yg terjadi ketika suatu perkara haram namun sudah sangat-sangat lumrah dilakukan. Ketika kamu mengingatkan bahwa perkara itu haram menurut quran dan hadist, bukan tidak mungkin kamu akan mendapat komentar-komentar miring. Sungguh miris komentar miring tersebut justru keluar dari orang-orang paliiiiiiing dekat :D
Well, mengutip hadist riwayat muslim, bahwa Islam akan datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula, maka beruntung lah orang-orang asing.

Klo org belum paham, hadist riwayat ini mungkin hanya akan terbaca sbg barisan kalimat biasa. Namun jika dia paham bahwa ini adalah sabda Rasulullah…manussia paling mulia, idola kita semua, yang merindukan kita, mendoakan kebaikan untuk kita di 14 abad yang lalu meski kita belum ada di dunia; tentu ga perlu keluar komentar miring dari mulutnya.

Lebih baik jadi ‘alien’ di mata manusia tapi mulia di mata Allah, daripada melumrahkan perkara haram, terlihat biasa di mata orang lain tapi dibenci Allah.

Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah Rasul Allah. Jika sudah mengikrarkan dan meyakini kalimat ini, harusnya ikut. Ikut cinta apa yang dicintai Tuhannya dan Rasulnya, dan ikut benci pula apa yang dibenci Tuhannya dan Rasulnya.

Tdk perlu berkomentar miring tentang suatu sikap atau statement tertentu yang mungkin maksud utamanya adalah mengajak pada kebaikan. Apalagi jika sikap tersebut disampaikan dengan santun tanpa maksud menyinggung pihak man a put. Sebelum komentar, baca baca baca dulu. Even komentar itu mau disampaikan atau cuma mau disimpan dalam hati, baca baca baca dulu..

Jika pernah menyimak kisah saudara kita para mualaf, mungkin cobaan yang pernah mereka hadapi lebih berat. Entah dikucilkan atau bahkan sudah tidak dianggap keluarga. Tidak dianggap anak, tidak dianggap saudara kandung, tidak dianggap suami/istri lagi. Memandangnya, sebagian kita mungkin bisa maklum,
“Ga heran, memang lingkungannya bukan Islam, wajar jika masih ada yang belum paham”.
Namun sungguh miris jika seorang muslim, lahir dan besar di lingkungan muslim, sedang mencoba hijrah, dan harus menelan komentar miring dari kerabat yang paliiiiiing dekat. Dunia akan mempertanyakan keIslamanmu jika garis lurus kamu anggap garis keras. Well, c’est la vie :D

Semoga Allah mengumpulkan kita semua, keluarga, saudara, dan sahabat di surga Allah yang indah nan abadi. Aamiin. Pada dasarnya, siapa pun dia, setiap manusia berada di jalan untukmenjadilebihbaik meski dengan cara yang berbeda-beda. No

Engga. Aku ga cengeng ko. Ga sensi juga. Cuma lagi PMS aja..

Kalo lagi seneng inget Allah mulu. Giliran lagi susah, sakit hati. Ga mau inget. Ngeluh hidup ga adil. Ngeluh nasib apes mulu. (Sepertinya begitu)

Udah semangat 45 mo anter pesanan kue. Lupa panasin mobil dari pagi. Mobilnya bermasalah sama listriknya. Kalo mau tetep nyala, pagi2 harus udah dipanasin. Aki sih belom soak, masih baru, cuma mungkin ada masalah sama koneksi listriknya. Dan ga bisa di stater. Mama sakit ga bisa bantu dorong. Warungnya bapak resti tutup. Tiba2 aku kesal.
Saking kepikiran, abis solat, solat dzuhur yang telat (jam 2), ga berdzikir. Abis salam langsung berdiri, lsg ke garasi, nyoba di starter lagi. Failed.
Lsg nangis, lsg jengkel kenapa nasib begini apes. Seandainya…seandainya..banyak andai2 yang tiba2 melintas yang kayanya cuma ada di awang2 dan ga tahu kapan dijawab.
Lsg sakit hati, marah, sedih.
Saking jengkelnya sampe ga tahu baca2 apa biar inget Allah. Ga tahu. Otak isinya udah marah aja.