Bersama Ibu Elly Risman

Ballroom Hotel Jatra
Balikpapan, 29 Agustus 2015

Official parenting seminar pertamaku. Sejak bergabung di Ibnu Umar, mereka sudah banyak memberiku dan juga para staff pendidik lain kelas-kelas pelatihan, dan parenting. Namun memang di lingkungan Ibnu Umar saja, khusus. Nah yang ini resmi, untuk umum, kami datang langsung ke ballroom-nya. Bergabung dengan orang tua care parenting se-Balikpapan. Ciyeeehh asik nih :D

Mmm.. Di usia yang sudah tidak muda, 64 tahun, Bu Elly mengabdikan hidupnya menjadi pakar parenting. Kalo aku lihat spesialisasi dia lebih ke sex edukasi sepertinya ya..

Di awal seminar beliau memaparkan, fenomena yang terjadi saat ini, keprihatinan kita semua akan maraknya kejahatan korupsi. Kekecewaan kita dengan kinerja pemimpin negeri yang jauh dari harapan. Ditambah parahnya kerusakan moral akibat pornografi yang ternyata telah menjangkiti anak-anak. Bu Elly mengisyaratkan bahwa sangat mungkin kerusakan anak berawal dari rumah. Ya tentu saja, karena sebelum anak-anak ini dewasa mereka dibesarkan dan dididik dalam sebuah lingkungan yang paling pertama, yaitu rumah dan keluarga. Rumah yang seperti apa, orang tua yang seperti apa akan menentukan kualitas anak-anak ini ketika dewasa.

Bu Elly menyampaikan bahwa pada dasarnya setiap ortu tidak siap menjadi ortu. Dengan demikian, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang istri/suami, kemudian menjadi seorang ibu/ayah, orang tersebut harus belajar. Untuk mendidik anak menjadi generasi penerus yang kelak akan menjadi pemimpin, orang tua tidak cukup hanya berbekal cinta dan insting, tapi juga ilmu. Berapa banyak orang tua mengaku cinta pada anak tapi memukul? Berapa banyak orang tua mengaku cinta tapi tidak tahu cara memeluk dan meminta maaf? Berapa banyak orang tua mengaku cinta tapi membiarkan anaknya terpapar televisi dan gadget? Berapa banyak orang tua mengaku cinta tapi selalu memenuhi apa saja, sekali lagi, apa saja keinginan anak? Tahukah mereka jika sikap demikian akan mencetak manusia dewasa yang seperti apa?

Anak dipukul bisa jadi dewasanya akan menjadi orang yang tidak percaya diri, susah beradaptasi, minder, bahkan lebih mungkin mengulang pengalaman kekerasan fisik tersebut kepada anaknya. Begitu seterusnya hingga sejarah pun terulang.

Anak yang tidak pernah dipeluk dan menerima ucapan maaf bisa jadi dewasanya akan menjadi orang yang juga tidak percaya diri, susah beradaptasi, minder, tidak paham konsep tanggung jawab, dsb.

Anak yang sejak kecil sudah banyak terpapar televisi dan gadget, tidak perlu lihat hingga dia dewasa, lihat saja tahapan perkembangannya, lebih mungkin dia mengalami banyak ketertinggalan tahapan perkembangan. Waktu yang seharusnya dia gunakan untuk bermain dan belajar malah dialihkan dengan duduk manis memandangi televisi dan gadget. Belum lagi teori kerusakan otak dan kemunduran IQ yang dikemukakan banyak pakar terkait efek televisi dan gadget ini. Memang nyaman rasanya bagi orang tua, anak-anak mereka bisa anteng duduk manis sambil menonton tv atau gadget hingga ketiduran. Orang tua juga bisa nyantai, tidak banyak energi terkuras. Tapi lihatlah apa dampaknya bagi anak?

Anak yang sejak kecil selalu dipenuhi SEGALA keinginannya, ya tebak aja lah ya bagaimana kelanjutannya..
Tapi aku gatel pengen tulis :D
Bisa jadi ketika dewasa dia ga bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Karena orang tua cenderung mengambil alih masalah anak. PR ketinggalan, ortu yang sibuk turun tangan. Daripada anak disetrap, malu sama teman-temannya, lebih baik PRnya yang ketinggalan dianter ke sekolah. Tidak punya pendirian. Susah survive. Bossy, merasa berhak atas segalanya. Tidak bisa mengambil keputusan. Memutuskan jodoh mana yang hendak dipilih saja bingung, bagaimana mau jadi imam? Jadi kepala keluarga atau kepala rumah tangga?

Dan begitu seterusnya… Lebih mungkin apa yang diterima anak-anak sejak kecil akan mereka terapkan kembali ke anak-anak mereka. Sejarah pun berulang terus. Jika bukan dari kita yang memutus mata rantai tersebut, siapa lagi?

Masih aku ingat ketika beliau bertanya kepada peserta yang hadir,
“Siapa di sini yang waktu sebelum menikah sekolah untuk menjadi istri atau suami, kemudian menjadi ayah atau ibu..”
Tidak ada yang tunjuk tangan…
I was like, bener juga kata beliau bahwa pada dasarnya setiap orang memang tidak siap jadi orang tua. Karena memang tidak mempersiapkan apapun! Saya pribadi, dulu sekolah tujuannya untuk cari uang wkwkwkwk.. Ga kepikiran kalo kelak jadi istri dan ibu harus belajar dulu.

Fenomena pola asuh yang banyak terjadi saat ini adalah, banyak orang tua tidak paham cara berkomunikasi. Orang tua lebih banyak disibukkan dengan kegiatan lain yang dianggap lebih penting, ketimbang membangun komunikasi ideal dengan anak.

Trus bagaimana sih komunikasi baik, benar dan menyenangkan itu dengan anak?
Hehehe, singkat kalimat, aku cuma bisa bilang, kudu simak seminarnya langsung, tapi yang bisa aku tarik kesimpulan adalah,
Pertama, sebelum membangun komunikasi baik, benar, menyenangkan tadi, kitanya dulu yang dibaikin, dibenerin dan menjadi menyenangkan. Look inside diri dulu yang pertama.  Koreksi diri. Sebelum menjadi ortu yang baik bagi anak, tentu kita harus terlebih dahulu menjadi orang yang baik bagi lingkungan sekitar kita (orang tua kita, pasangan kita, sahabat kita, tetangga, saudara, dst).

Biasanya keluhan apa yang kita punya tentang anak. Kira-kira itu masalah siapa? Masalah anak kah? Atau mungkin malah masalah kita?

Misal: galau anaknya umur 6 tahun belom bisa baca tulis? Nah, itu masalah siapa? Masalah anak atau masalah kita? Bisa jadi masalah kita aja. Galau karena mungkin kita membandingkan anak kita dengan anak umur 2 atau 3 tahun, yang lebih muda 4 atau 3 tahun dari anak kita sudah pandai baca tulis. Nah, masalah kita kan? Padahal, apa salahnya umur 6 tahun belom bisa baca tulis? Anak kita bodoh? Lamban? Belom apa-apa kita udah nge-cap anak kan?

Tidak ada yang salah dengan “umur 6 tahun belom bisa baca tulis”, bisa jadi anak memang belom siap mempelajari itu. Ada kalanya dia akan siap. Kita lupa deh bahwa setiap anak adalah UNIK, jadi kita sibuk mencari perbandingan. Padahal buat apa dibanding-bandingin? Kita aja ga nyaman ya dibanding-bandingin, kenapa malah membandingkan anak? Hehehe…

Trus, kebanyakan ortu lupa didikan moral dan agama, karena terpaku dengan kompetensi akademis. Ortu sibuk cari tempat les baca tulis mutakhir, atau sibuk cari sekolah unggulan terkece, lupa,
“Tuh, si kecil ga tahu kalau makan/minum harus dengan tangan kanan dan tidak boleh sambil berdiri”
“Tuh, ga cuma anak perempuan, anak laki-laki pipisnya juga harus jongkok, bukan berdiri”
“Tuh, si kecil ga tahu cara beres-beres mainan habis bermain”,
“Tuh, si kecil ga tahu kalau habis beraktivitas di luar rumah, sepatu harus naik ke rak, bukan nongkrong di depan pintu”,
“Tuh, anak belom paham konsep menyelesaikan masalah dengan bicara”, atau
“Tuh, anak belom paham konsep mendengarkan dan berbicara bergantian…” Dan lain sebagainya. Which is mean, hal-hal tersebut di atas sudah bisa kita kenalkan sejak dini dan masih lebih penting ketimbang mahir baca tulis. Padahal sekali lagi, kelak anak kita akan menjadi manusia dewasa, akan menjadi seorang istri/suami, akan menjadi seorang ibu/ayah, akan menjadi seorang pemimpin. Entah seluas apa cakupan pimpinannya, toh jikapun wilayah pimpinannya hanya mencakup rumah tangga, menjadi istri dan seorang ibu misalnya, anak butuh bekal dan orang tua lah yang bertanggungjawab menyiapkan bekal tersebut. Namun, yang terjadi saat ini, apakah ada ortu yang menyiapkan anaknya untuk menjadi istri dan ibu? Mungkin ada, tapi mungkin jarang. Kebanyakan ortu ternyata lebih fokus ke pencapaian akademis. Ya ga?

Nah, setelah look in, apakah kita sendiri sudah baik, benar dan menyenangkan buat lingkungan sekitar (ortu kita, pasangan kita, sahabat, tetangga, dst, khususnya anak kita), jika memang belum, ya gak papa sih, namanya juga manusia, kan ga tahu. Manusiawi Hehehee…

Kedua, Perbaiki diri, ubah mind set, ubah pola komunikasi, siapkan waktu. Singkirkan gadget dan televisi yang hanya akan merusak quality time kita dengan keluarga. Ini jadi pelajaran buat aku juga. Meski sudah bisa nyaris tidak menyuguhkan acara tivi ke Jamesha, ternyata aku belum menyingkirkan gadget. Masih sering, seriiiiing banget aku lebih sibuk sama gadget ketimbang ngobrol sama Jamesha.

Nah tentang televisi ini, sebenernya udah pengen aku kardusin, pengen aku masukin gudang. Tapi tar deh, aku pikirkan lagi, gimana caranya agar tv bener-bener hilang dari peredaran Jamesha. Hehe..

Nah, setelah perusak-perusak quality time dengan anak disingkirkan, komunikasi bisa segera dibangun. Ciptakan suasana ngobrol yang menyenangkan. Setelah pulang dari beraktivitas seharian, siapkan senyum lebar dan muka berseri-seri untuk anak. Alhamdulillah jika masih ada yang punya bocah ingusan yang antusias sampai jingkrak-jingkrak menyambut kedatangan kita. Ga usah disuruh, melihat ini mungkin kita udah bisa senyum sendiri. Sambut dia, peluk, belai, cium. Afaik, anak usia 0-6 tahun butuh banyak2 dipeluk, belai dan cium sama ortunya. Good for them :D

Kalau biasanya kita pulang dengan raut cape dan (kadang) cemberut, alih-alih mendengarkan anak, biasanya langsung ganti daster, ambil hape, ngadem di kamar, dan mulai ‘online’. Anak cenderung dicuekin. (pengalaman, dan ke sininya sangat-sangat aku sesali. Apalagi waktu masih pakai babysitter, anakku lebih banyak dipegang mbaknya, ketimbang aku ibunya).

Merubah kebiasaan, kali ini mulai lah menjadi pendengar setia dan aktif. Biasanya anak banyaaak cerita kalo kita baru sampai rumah (lagi-lagi ini pengalaman. Hehehee). Baca bahasa tubuhnya. Bahasa tubuh anak, kalo menurut aku sangat mudah dibaca karena biasanya anak itu ekspresif, dia sedih, kesel, atau senang, pasti langsung dia tunjukkan. Misalnya kita mendapati anak kita air mukanya murung, biasanya anak terbangun semangatnya bercerita ketika kita berhasil menebak apa yang sedang dia rasakan tanpa dia menceritakan. Tatap matanya ketika dia bercerita, respon aktif, sesekali timpali dan jangan tergesa-gesa, jangan memotong. Anak tuh simple, konsep mereka cuma suka ga suka, enak ga enak, nyaman ga nyaman. Once anak sudah merasa nyaman, Insyaa Allah komunikasi ideal bisa kita bangun.

Namun terkadang, teori ga semulus praktek. Ya ga sih? Kadang masalah hidup yang berat telah begitu menyesakkan dada kita. Begitu beratnya hingga yang bisa kita ajak bicara hanya sajadah dan Allah. Jika sudah demikian, masih ada kah energi tersisa untuk membangun komunikasi dengan anak? Masih! Tentu saja, karena akhirnya kita termotivasi agar anak kita tidak mengalami pengalaman pahit seperti yang pernah kita alami. Kalaupun iya, kita bisa mempersiapkan anak-anak kita agar tangguh menghadapi masalah hidupnya kelak.

Di aku, mungkin beberapa sahabat sudah tahu apa yang tengah aku hadapi. Masalah hidup ini justru memotivasi aku untuk menyiapkan Jamesha agar kelak dia bisa menerima keadaannya. Bagaimana cara mempersiapkan anak yang tangguh, yang akhlaknya sesuai harapan kita? Tentu saja, itu semua dimulai dari diri sendiri dulu. Ingin punya anak soleh, ya ortunya duluan yang jadi soleh. Perbaiki diri, dekatkan diri kepada Allah sambil terus menuntut ilmu terutama ilmu agama dan ilmu parenting. Kembali lagi, sekolah-sekolah kita ga meluluskan sarjana menjadi istri, atau menjadi ibu atau menjadi single parent, karena itu ilmunya perlu kita pelajari sendiri.

Alhamdulillah, lagi-lagi Ibnu Umar banyak memberi pencerahan (Ibnu Umar lagi, Ibnu Umar lagi, tolong ya, ini bukan promosi :D), sampe-sampe mamaku komeng, kalau gaya bicaraku dan pola asuhku ke Jamesha sekarang jadi kayak ibu guru. Well, kadang kita memang lupa, rezeki itu bukan semata-mata harta dan materi. Kadang sebenarnya Allah sudah melimpahkan kita dengan rezeki yang jauh lebih berharga dari harta dan materi berupa: hidayah, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, dan teman-teman yang baik. Namun seringnya kita lupa. Seringnya kita masih merasa kurang. Gamis kurang banyaklah, jilbab kurang banyaklah, itu-itu mulu yang dipake. Ato ngeluh muka kusam karena belom sempet facial dan belum punya uang buat beli krim pagi dan tabir surya. Wkwkwkwk… Curcol inimah! Ya begitulah kita lebih banyak mencari kekurangan diri ketimbang mensyukuri apa yang sudah kita miliki.

Ya udah segini dulu, tampaknya aku sudah kehabisan ide. Untuk dikonfirmasi bahwa tulisan ini adalah hasil pemikiranku, kesimpulan yang aku dapat dan aku pahami dari seminar Ibu Elly Risman. Ini bukan summary isi seminar beliau. Kalo ada yang mau menambahkan ato merubah atau tanya-tanya, dipersilakan.

Tulisan ini aku tutup dengan sebuah kabar gembira dari sahabatku, kami memang belum lama kenal, but soon she is become my sister. Setelah menanti 2 tahun, akhirnya Allah berkehendak menitipkan sebentuk benih cinta dalam rahimnya. Pagi-pagi, ketika ruang seminar belum ramai, dia menghampiriku dan menunjukkan hasil tes pack-nya. Masyaaa Allah, betapa senangnya aku bisa menerangkan padanya bahwa hasil tes packnya positively definitly POSITIP! Meski kemudian aku himbau dia untuk segera memastikan ke bidan atau spog. Tapi hasil tes pack dari urine subuh yang menampilkan 2 garis yang sangat jelas, bagaimana kita bisa sanggah akurasinya? Yang bisa kita lakukan hanya tinggal ucap bismillah, and let USG showed and ensured. Saat itu tak terasa mataku berkaca-kaca karena haru, aku pun meraih tubuh sahabatku dan memeluknya karena ikut merasakan kebahagiannya. Beberapa detik, kami sempat mewek haru bersama. Momen beberapa detik yang menggambarkan indahnya mencintai sahabat karena Allah..
Masyaa Allah barakallah, semoga Allah memberikan kesehatan kepada ibu dan bayi, seterusnya hingga bayi lahir dan dewasa. Aamiin.

Selfie Story of The Day

Aku tuh suka takut-takut pasang foto selfie sebenernya. Tapi kadang ga tahan kalo fotonya udah lucu banget, kaya pas waktu selfie sama Jamesha. Yang bikin lucu ya Jameshanya. Lucu bgt Jameshaku di foto itu, walo mukaku udah ga karuan sebenernya (bukan fotogenik).

Eeehh sekalinya pasang foto selfie jadi dp bbm (dimana biasanya dp-nya foto roti wkwkwkwk), langsung ada yang minta nomer telpon (temen kerja dulu, emang sempet tukaran pin bebe, soalnya satu kerjaan walau beda divisi, tapi ga tukeran nomer hape), langsung nelpon, di waktu solat tarawih. Nyata ga kuangkat, bukan karena waktu solatnya, tapi ngapain juga nelpon kan? Ga ada perlunya. Paling tanya kabar. Tidak perlu. Mending dia telpon anak ato istrinya karena notabene dinasnya di lapangan.

Ujung-ujungnya doi bbm, kurang lebih isinya begini, “maap mba, iya saya juga lagi mo taraweh kok. Maap ga sempet order kemaren, ini udah naik lagi ke lapangan…”

Nah, bener kan, tadi nelponnya paling emang cuma buat tanya kabar doank. Ga penting.

Dih, lantas mikir, emang bener kata-kata nasehat para alim ulama kalo selfie itu banyak mudharotnya. Mungkin aku harus betul-betul berhenti pasang foto muka. Tapi yang mukanya ga kelihatan gpp kali yak #nego :D

Pernah baca-baca di ig Ummu-Ummu bercadar (niqab), kebetulan Ummu ini pahamnya cadar itu wajib. Terlepas apapun hukum cadar, dimana perbedaan pendapat yang terjadi adalah sunnah dan wajib, jangankan selfie, membuka wajah aja serem. Alasannya, cantik itu relatif. Maksudnya, di ikhwan A mungkin muka kita biasa aja, tapi siapa yang tahu di mata ikhwan B, C, D? Apa kita yakin wajah kita yang terbuka aman dari penyakit hati ikhwan yang memandang? Dalam hati orang siapa yang tahu?

Mungkin orang lain mikirnya, diiihhh sok kecantikan! Macam ratu aja!!

Lah, bukan kah memang seperti itu Islam memperlakukan perempuan? Tanpa memandang status sosial kita, apalagi bentuk fisik kita, dalam Islam, semua perempuan dimuliakan kan?
Dalam Islam, perempuan dikenal sebagai saudara, sister, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai madrasah pertama anak-anaknya. Bukan sebagai pacar, pemuas nafsu syahwat sesaat.

Kembali lagi, dalam hati orang siapa yang tahu kan? Yakin kah tidak ada ikhwan yang ga pake penyakit hati ketika memandang kita? Yakin semua mata bisa menjaga hatinya tetap bersih? Yakin? -_-

02.45 AM

Faktanya, sering kali merasa diri ini belum menjadi ibu yang baik. Padahal berapa kali kan berdoa dalam hati atau terang-terangan minta diberi keturunan lagi. Ngurus Jamesha aja masih banyak kekurangannya, mo minta dikasi anak lagi. Hehehee..

Well, ga ada manusia yang sempurna. Tapi selama nafas masih di tenggorokan, ibu ga akan berhenti berguru padamu, Nak. Darimu aku belajar bahwa hakekat anak adalah bukan tentang banyak meminta, banyak maunya. Tapi tentang banyak memberi. Eeeaaa.. Kebanyakan baca-baca ayah edy inimah :D. Jadi kalo kata Ayah Edy, anak itu bukan banyak minta loh, Moms, tapi justru banyak memberi.

Menjadi single parent memang ada tantangan tersendiri. Anehnya aku malah memilih menjadi stay at home mother ketimbang mencari kerja lagi demi menghidupi kami berdua. Ya walau pun pada akhirnya sekolah Ibnu Umar yang dekat rumah menjadi pilihanku untuk melebarkan ladang mata pencarian.

Tapi entahlah.. Kadang mungkin orang mikir aku stress hehehe. Tauk deh, emak gue yang kapan hari ngatain gue stress. Ga usa tersinggung, mungkin saja beliau benar. Mungkin sudah terlalu besar peristiwa yang terjadi. Tapi akunya yang kurang tawadhu, kurang banyak dzikirnya.

Ya begitulah, Allah seolah ga berhenti memberi petunjuk-petunjukNya. Hidupku sebelum usia 25 memang flat banget. Kasarnya mah mungkin ga mutu. Ga ada peningkatan kualitas hidup (dalam hubungan sama Allah). Kalo ibarat grafik, garisnya rata, datar. Masa2 remaja yang dicari cuman senang-senang. Pengen bisa jadi anak gaul, pengen langsing, pengen cantik, pengen punya pacar. Ah, semu banget deh pokonya. Dunia kuanggap bukan tempat singgah, melainkan pencarian jati diri. Lupa hubungan spritual sama Allah.

Masuk usia 25, sesuatu membuatku memutuskan untuk memakai jilbab. Terjadi begitu saja, suatu pagi pas mau berangkat kerja, ngomong ke Mama pengen pakai jilbab. Dan kupakai lah. Masih hijab gaul sih, tapi di sini Allah sudah memberiku sebuah petunjuk. Masyaa Allah.

Dari datar, grafiknya naik di peristiwa first day hijab tersebut. Tapi trus datar lagi. Mungkin sedikit bergerigi gitu bentuknya karena lagi-lagi Allah menunjukkan, memulai pernikahan dengan cara yang salah hanya akan berakhir salah juga. Ya, ga lama setelah pakai jilbab, aku menikah. Dimulai lah babak baru.

Sebenernya niatnya udah lurus, ingin segera mengakhiri masa pacaran yang cuma akan numpuk-numpuk dosa. Tapi yaa saat itu Ilmu agamaku masih kayak jentik-jentik nyamuk di kolam, tuntunan (sesuai Quran & Hadits) dalam memilih pasangan hidup lupa aku masukin ke to do list. Lantas, terkuaklah, bahwa ternyata, seandainya waktu bisa diulang, aku tidak akan memilih dia.

Well anyway, setidaknya doi udah kasih aku Jamesha. Kalo ga pilih dia, mungkin aku ga punya Jamesha sekarang. Anakku, yang kalo bisa diulang lagi, aku akan tetap memilih kamu, nak. So, ungkapan salah pilih pasangan ini tidak perlu dibahas lagi karena bagaimana pun, di setiap kesalahan, Allah akan tetap kasih hikmah. Salah satunya mungkin ketika aku berhijrah. Begitulah cara Allah mencintai kita. Yes, He is love us! Masyaa Allah.

Setelah hampir 3 tahun grafik hidupku datar namun bergerigi, hingga akhirnya grafiknya jatoh! Terjun bebas ke bawah. Mulai dari kemantapanku untuk berpisah dan lalu kehilangan pekerjaan.

Aku benar-benar terpuruk. Ketukan palu Pak Hakim faktanya memang bikin lega. Bahkan sampai detik ini aku tidak pernah menyesali keputusanku itu. Malah bersyukur, karena menurutku, kalo maksa dipertahankan, salah satu dari kami bisa binasa. Entah aku, atau dia, atau mungkin anakku. Naudzubillahi min’dzalik!

Tapi kehilangan pekerjaan.. Aduh! Aku sama sekali belum siap karena pekerjaan itu adalah sandaran hidupku setelah kembali single. Aku butuh penghidupan untuk bertahan bersama anakku. Tapi toh, Allah tetap mengambilnya. Allah mengambil penghidupanku yang sejatinya memang cuma titipan. Mau bilang apa?

Grafik hidup terjun bebas kayak jurang di dasar samudera. Namun kembali, seolah Allah memberi petunjuk lagi. Grafik kemudian merangkak naik lagi. Di satu titik tiba-tiba aku bicara dalam hati sama diri sendiri bahwa, office working momma is really not my style of life. Pikirku, untuk apa cari kerja kantoran lagi? Sudah cukup Jamesha terpisah rumah dari Bapaknya, jangan lagi kutambah harus meninggalkan dia ke kantor.

Jamesha berhak aku dampingi sepanjang hari, setelah apa yang dialami orang tuanya. Dan di situlah kuputuskan untuk berhenti mencari lowongan kerja. Aku lalu melipir ke dapur, berkutat dengan tepung, oven dan kompor. Dimulailah babak baru yang lain. Jualan kue.

Demi Jamesha, aku banting setir jualan kue agar bisa tetap di rumah, menemaninya, bisa mengajaknya dan bersamanya kemana saja. Setidaknya aku percaya, inilah yang terbaik untuknya. Mama, aku tahu dia miris melihatku, melihat ijazahku yang mungkin akan cuma jadi perkakas gudang atau hiasan di lemari. Tapi aku juga tahu bahwa dia pun tahu aku lebih bahagia dengan keputusan ini. Lebih bahagia.

Grafik terus bergerak naik, maksudku, aku mulai mencintai hidupku yang baru. Dan lagi-lagi Allah kasih jalan aku bisa bergabung menjadi bagian keluarga Yayasan Ibnu Umar. Well, berdagang ternyata memang ga gampang, dan aku butuh back up. Setidaknya, Ibnu Umar bisa kasih penghasilan rutin walau mungkin jumlahnya beda dengan waktu masih di Total. Tapi justru lebih tenang dan lebih bahagia seperti ini. Dalam hidup, apasih yang kita kejar kalo bukan ketenangan dan kebahagiaan? Hehehe..

Ketika kamu bisa merasakan sebuah ketenangan dan kebahagiaan hakiki meski di tengah rintangan dan tantangan hidup yang lebih berat, di situlah kamu akan tahu bahwa kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Hatimu tersenyum, karena kamu bisa melihat atau setidaknya merasakan (mungkin) Allah pun tersenyum untukmu. Wallahu’alam bishowab.

Buat yang lagi jenuh, ingat lah, berapa banyak perempuan yang menginginkan posisi sepertimu saat ini. Ingat lah bahwa suami baik itu berkah dalam hidupmu. Surga di duniamu. Jangan sia-siakan. Berbakti dan tunduklah semampumu. Jika dia salah, tegur dengan cinta. Jika kamu yang salah, minta maaf, perbaiki diri. Let me tell you that, hidup sendiri tanpa pendamping itu ga enak. Apalagi kalo sudah ada anak. Kudu banyak belajar, kudu berusaha dan mencoba lebih keras lagi.

Namun jika suami dzalim, itu adalah ujian. Menurutku, jika kamu mampu bertahan, bertahanlah semampumu. Jika kamu terus melihat hal buruk dalam dirinya, coba lah cari dan gali hal baiknya. Namun jika kamu ga sanggup bertahan, jangan siksa dirimu. Istikharah, mohon petunjuk dan semoga Allah memberkahi apapun keputusanmu. Aamiin.

1 Ramadhan 1436H

image

Sesuatu adalah indah jika kita mau (sejenak) melihat lebih dekat, lebih dalam.

Jam 3 pagi, Balikpapan dibangunin untuk santap sahur sama suling Pertamina. Aahhh Ramadhan ini…

Alhamdulillah, aku percaya, semua Muslim, siapapun kamu, dimanapun, apapun latar belakangmu, pasti semua bergembira dan feeling blessed telah dipertemukan kembali dengan bulan penuh berkah ini.

Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Lebih ikhlas. Lebih banyak introspeksi. Usah pusing urusan orang lain, periksa diri sendiri dulu aja. Usah pusing pendapat orang lain, they might be telling u the truth. Ya kan? Kenapa engga? Karena kadang kita lebih gampang melihat kekurangan orang lain ketimbang diri sendiri.

Apapun yang tengah kamu alami, mungkin, I said, mungkin, ada kekhilafan dulu-dulu yang belum disadari atau diperbaiki. Minta ampun, pada Yang Maha Pengampun. Kepada Al Ghoffar (correct me if typo).

Selamat santap sahur, Semua. Menu apa nih? Karbo is a must kayanya yak hehehee..

Lebih Bahagia (bag. 2)

Di satu hari waktuku habis di dapur nyiapin orderan buat hari esoknya. Lumayan menguras tenaga karena biasanya ada Mama yang bantuin. Kebeneran Mama lagi mudik ke Madura, ada nikahan sepupu. Tadinya udah cemas, takut Jamesha rewel, tapi ternyata seharian itu, mulai dari siang, sampai menjelang larut malam, Jamesha bisa mengandalkan dirinya sendiri. Bolak balik nonton ato bongkar2 segala apa yang bisa dibongkar, sepedaan dalam rumah dan sesekali nengok ibunya ke dapur, gratakin adonan sus mentah atau ber-playdoh sama adonan roti mentah, lalu minta gendong.

“Bu endong bu”, pintanya sembari menengadahkan tangan kecilnya minta diangkat.
“Ibu lagi bikin kue sayang. Buat dijual, biar kita bisa dapat uang nanti..”, jawabku yang ga tega nolak sebenernya. Dan dia langsung menurut aja, lalu kembali mencari keasikan sendiri.
Kasian dia, sudah tampak bosen dan cape, mungkin udah pengen bobo dikelonin ibunya. Tapi yang ada dia bisa menyibukkan dirinya sendiri dan membiarkan aku menyelesaikan tugasku di dapur..

Demi anak ini, aku banting setir jualan kue agar bisa tetap di rumah, menemaninya, bisa mengajaknya dan bersamanya kemana saja. Setidaknya aku percaya, inilah yang terbaik untuknya. Mamahku, aku tahu dia sedih melihatku, melihat ijazahku yang mungkin akan cuma jadi perkakas gudang atau hiasan di lemari. Tapi aku juga tahu bahwa dia pun tahu aku lebih bahagia dengan keputusan ini. Lebih bahagia.

Ketika kamu bisa merasakan sebuah ketenangan dan kebahagiaan hakiki meski di tengah rintangan dan tantangan yang lebih berat, di situlah kamu akan tahu bahwa kamu sudah mengambil keputusan yang tepat. Hatimu tersenyum, karena kamu bisa melihat atau setidaknya merasakan (mungkin) Allah pun tersenyum untukmu. Wallahu’alam

Maaf, Aku Ga Ikutan Acara Peringatan Kematian

Ma, maapkan anakmu ini yg ga bisa nyupirin ke acara peringatan 1 tahun kematian seorang kerabat kita. Aku takut ma. Takut Allah murka. Jika semua tergantung niat, buat apa ada aturan? Buat apa ada dalil? Islam itu kadang ga pake logika, tapi pake dalil.

Maap harus ngebiarin Mama jalan kaki sendirian, malam-malam begini. Mama kan ngerti, tolong menolong dalam kemungkaran adalah dilarang. Maap Ma, semoga Mama ngerti sikapku ini. Tak lain hanya ingin taat kepada Allah.

Ya Allah, semoga Engkau mengampuni aku sudah bikin mama kecewa..

Apalah Ini Share Info Cyantiikk

Bukan iklan, bukan promo, bukan ge-er juga. Kemaren ber-cheating day sama mba siska and she said that muka aku bersih, halus.

Suer deh, pernah ngalamin yg dulu kulit muka berasa kering, trus dikit-dikit jerawat sebiji-2biji muncul, trus kusem kumus-kumus gitu kayak ga pernah pake pelembap.

Ga tahu deh, ceritanya mo share info cantik aja. Tapi lately aku tuh pake pembersih muka milk cleanser sama toner-nya wardah. Jadi bersiin muka 2x sehari. Pake milk cleanser dulu, trus cuci muka (aku pake sabun mandi bayi yang jonson-jonson varian rice and milk), trus pake toner, trus pake pelembap.

Klo rangkaian perawatannya pake LBC. Krim siang, malam, tirai-nya. Trus peeling-nya di LBC juga. Peelingnya sempet sekitar 2-3 kali aja, trus belum pernah peeling lagi.

Emang setelah pake milk cleanser ini, muka tuh berasa halus kenyal gitu. Awalnya ga sengaja. Mo ambil toner, pas sampe rumah ternyata milk cleanser. Udah aja diterusin pakenya. Skr udah habis sebotol, setelah dipake bbrp bulan. Awet juga. Pakenya secukupnya aja, ga usa sampe bleberr. Rencana mo beli lagi krn yg sebotol itu udah abis.

Mungkin kuncinya emg di pembersihan kali yaa..disamping pernah bbrp kali peeling juga di LBC, tapi itu juga ga rutin.

So, yang kulit wajahnya agak-agak bermasalah sama kering dan kusam, mungkin cara aku bisa dicoba.

Catatan: kulit aku ga putih, dan ga pernah pake perawatan dan mutih2in. Tujuannya adalah cuma buat lembap dan bersih dan ga kusam aja. Ga usa putih2, soalnya dari orok udah sawo mengkal hehehee…

Kemudian, hati2 penggunaan kapas. Jangan digosok keras. Lembut aja. Soalnya katanya kalo digosok keras bisa meninggalkan flek nantinya. Cmiiw.

Udah gitu, make up yg aku pake cuma lipstik yang warna natural, hampir mendekati rona bibir aja. Ga pake bedak, eye liner, maskara, dan apalah-apalah make up gadget lainnya. Why? Just because I’m simply looks older even with soft and light make up. So I’m leaving the make up behind. :D

Ya udah segitu aja.