Dan Pagi Pun Kuawali dengan Kesalahan..

Adzan subuh belum berkumandang ketika mata mulai terjaga. Sebuah pesan bbm dari Fadly membuat mataku terbuka lebar yang semula masi siut-siut melawan kantuk.
“Wi udah chat2nya, Tuh kan udh mulaai kesinggung mba arni”

Iya, pesan dari Fadly langsung menamparku, menyadarkan otakku yang pingsan. Pingsan dari simpati dan empati!

Beginikah caramu menenangkan orang tua yang panik dan sedih menyaksikan buah hati tercinta mereka sedang terbaring di rumah sakit? Dengan tubuh mungilnya yang lemah dan selang infus tertancap dingin di tangan?!

Aku segera tersadar dari kearoganan. Menganggap semua orang bodoh, dan akulah yang paling hebat. Sungguh pendek dan miskin akal ini. Alih-alih disaluti, yang ada, orang gerah dan menyingkir!

Sebuah kesalahan bodoh kembali aku perbuat hari ini. Selalunya kesalahan memang bodoh, dan selalunya penyesalan datang terlambat.

Sungguh menyesal sudah membuat orang lain murka karena perbuatan diri ini. Apalagi itu sodara sendiri! Kakak sendiri! Well, mungkin aku sendiri tidak tahu pikiranku lari kemana.

Namun, jikalau boleh aku mengucapkan,

“Mami – Papi, Mba Arni – Yuspa, maafkan aku. Sungguh aku tak bermaksud menambah beban kalian. Aku pun miris sedih membayangkan Raffa di sana, dengan tubuh mungilnya yang kaku menerima kejang demam.

Dimanakah perasaanku? Dimanakah hati nuraniku sebagai seorang ibu jika aku tidak merasa down melihat anak-anak ini lunglai lemah tak berdaya. Ringkih melawan infeksi virus dalam tubuhnya.

Sungguh, akupun mungkin akan merasakan seperti yang kalian rasakan jika hal ini menimpa Jamesha. Maaf kan aku, Mami, Papi..aku sayang kalian, aku sayang Raffa…

Tak sanggup mengutarakan pesan ini langsung ke kalian, muka ini seolah sudah tercoreng kotoran terburuk.

Betul kata Mami, aku pun dulu terpuruk menghadapi pup berdarah dan sembelit yang dialami Jamesha. Walaupun pada akhirnya, aku tahu kalo itu tidak apa-apa, dan Jamesha kembali baik-baik saja.
Sungguh tidak ada maksud lain, selain ingin berbagi. Ingin meyakinkan bahwa itu tidak berbahaya dan Raffa pasti akan kembali seperti semula. Ingin menghibur hati yang sedang lara, terobsesi mengulang kalimat,”itu normal, dan sangat lumrah.”

Maafkan aku sudah menjejali ruang Buma kita di Whatsapp dengan ceramah yang tidak dimengerti dan tidak dibutuhkan.

Membayangkan seandainya Jamesha yang terbaring di sana, hatiku pun pasti hancur. Luluh lantak! Jangan anakku yang sakit, Ya Allah. Biarlah, aku saja yang sakit, tapi jangan dia..😦

Sembuhkan anakku, Ya Allah..tolong jangan sakiti dia..

Arni, maapin aku yaa, sudah begitu songong di depanmu, di kotak Buma kita di WhatsApp. Kejadian hari ini sungguh telah memberiku pembelajaran. Bahwa tidak demikian cara menyampaikan simpati kepada keluarga yang sedang bingung dan sedih.

Tidak demikian cara membagi info yang dipunya kepada keluarga yang sedang panik dan resah.

Kesalahan yang menghancurkan benteng beton yang mengurung tenggang rasa. Tidak semua orang bisa memahami maksud kita. Tapi yang pasti hanya dibutuhkan untuk keluarga yang sedang resah menunggui buah hati di rumah sakit hanyalah simpati dan empati! Bukan ceramah panjang lebar menggurui yang sama sekali tidak membantu!

Terimakasih, Mistake, sudah menamparku pagi ini! Terimakasih, Mistake, sudah menyadarkanku bahwa ternyata aku insan yang jauuuhh dari toleransi! Bahwa ternyata aku sok tahu dan sombong! Bahwa ternyata aku tidak pandai menempatkan diri! Kapan mengucapkan ini, kapan mengucapkan itu. Kapan berbicara, dan kapan harus diam.

Maaf kan aku, Arni, Yuspa, dan semuaaa yang sudah kudzalimi. Semoga kejadian ini akan menyembuhkanku dari sakit arogansi! Penyakit tidak peka situasi.

Kecup sayangku selalu untuk keponakan tercinta Muhammad Zhahiraffan Yusuva. Semoga cepat sembuh, ceria lagi, gembira lagi, tertawa lagi. Tumbuh sehat kuat, unggul, juara, seperti yang orang tua harapkan dan doakan selalu.”

Karena pesan menyayangi tidak selalu tersampaikan jika tidak dibalut santun. Karena pesan mencintai tidak bisa terungkapkan jika tidak dibalut tata krama.

Orang berpendidikan setinggi apapun, tapi tak bersopan santun dan tidak bertatakrama, lantas sombong, dan merasa paling hebat, siapa yang salut? Siapa yang mau respek?

Masih jauh lebih baik menjadi insan jelata tapi selalu bersimpati, sopan santun, dan tata krama. Lebih berharga, lebih dibutuhkan.

Orang tidaklah melihat titel latar belakang pendidikan, tapi melihat perbuatan dan perilaku. Humble kah? Simpati kah?

Jika kamu berpendidikan tinggi, S1, S2, S3, bahkan Profesor sekalipun, tapi tidak menghormati orang lain, merasa superior, dan merasa jadi dewa yang dibutuhkan, kusarankan sebaiknya bertobatlah!

Karena kesalahan itu sejatinya mendidik dan mengajarkan. Semoga tali cinta di antara kita-kita tidak putus yaa..

@DwiArshi
Ibunya Jamesha Latifah Arsyahadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s