Untuk Diriku yang Tidak Sempurna

Untuk diriku yang tidak sempurna, malah banyak salah. Lama-lama blog ini jadi blog pengakuan dosa..😦

Untuk diriku yang tidak sempurna, yang dengan sombong menyatakan kecewa berat dengan pola asuh orang tuaku terdahulu. Menyatakan dengan lantang bahwa mereka banyak melakukan kesalahan. Menyatakan dengan angkuh,”Aku tidak akan memperlakukan Jamesha seperti dulu Mama Papa memperlakukan kami!”

Astagfirulloh al adziim
Astagfirulloh al adziim
Astagfirulloh al adziim

Nistanya perangaiku, Ya Allah..Mahkluk sombong yang hina! Merasa paling benar! Paling hebat! Paling berpendidikan!

“Padahal, siapa yang mengantarmu hingga menjadi seperti sekarang? Siapa yang mengorbankan keringat dan darahnya untuk memberimu makan dan membiayaimu sekolah? Siapa yang tidak bisa tidur berhari-hari melihatmu terbaring sakit? Ingat waktu kamu opname karena typus? Siapa yang merelakan jatah makannya agar kamu kenyang? Mengantar uang jajanmu ke sekolah, menemanimu mengerjakan PR hingga larut malam, membuatkan masakan-masakan lezat kesukaanmu..”

Kemanaa hati nuraniku? Bukan seperti itu mengkoreksi kesalahan seseorang. Ya mungkin pola asuh Mama Papa dulu jauh berbeda dengan yang kuterapkan ke Jamesha sekarang, tapi apa iya begitu caranya mengkoreksi? Mengunggulkan diri sendiri seolah paling benar. Faktanya, Mama Papa adalah manusia paling berjasa dalam hidupku. Tapi mengapa aku perlakukan mereka demikian?

“Bukankah mereka hidup di zaman yang berbeda denganmu? Di zaman mereka, tidak ada bangku kuliah, tidak ada smart phone, tidak ada internet. Pengetahuan mereka jelas tidak seluas milikmu, jikalau mereka menerapkan pola asuh yang menurutmu salah, apakah itu kesalahan mereka? Mengapa tidak kamu yang memaklumi?”

“Jika memang keilmuan parentingmu lebih up to date, apa begitu caramu memperlakukan orang tuamu di depan anakmu?”

Untuk diriku yang tidak sempurna, ternyata begitu banyaaaak kekurangan dan kesalahan yang telah kuperbuat. Melihat diri sendiri, rasanya memang patut jika semua orang menjauh. Tapi tidak. Faktanya aku masih punya teman yang menyenangkan. Keluargaku di rumah menyayangiku apa adanya.

Iya, mereka semua menyayangiku, mengakui jati diriku, menerima kekuranganku. Tapi apa yang telah kulakukan pada mereka? Menjauhkah mereka? Tidak. Mereka masih ada di sana, menantiku, menyayangiku. Begitu besar berkah yang Allah turunkan. Begitupun aku lupa untuk bersyukur.

Untuk orang-orang di hidupku, di sekitarku, ijinkan aku memperbaiki diri..
Mama, Papa, maafkan anakmu yang tidak berbakti ini. Karena bagaimanapun berkat kalianlah aku bisa berdiri seperti sekarang. Maafkan aku, Papa, hampir tidak pernah mengirimimu ayat-ayat suci. Maafkan aku Mama selalu berbuat kasar dan menghakimi. Maafkan aku telah berburuk sangka kepada kalian.

Terimakasih sudah mengajarkanku segalanya, ketulusan kalian akan selalu kuingat. Maafkan kebodohanku yang tidak membalas cinta kalian..

Terima kasih, Allah sudah menjadikan mereka orang tuaku..Terima kasih, Allah telah membuatku terlahir dari mereka berdua..
Peluk ciumku selalu buat Mama, Papa, Mumu, dan Jamesha. Maafin Ibu ya, Sayang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s