Selfie Story of The Day

Aku tuh suka takut-takut pasang foto selfie sebenernya. Tapi kadang ga tahan kalo fotonya udah lucu banget, kaya pas waktu selfie sama Jamesha. Yang bikin lucu ya Jameshanya. Lucu bgt Jameshaku di foto itu, walo mukaku udah ga karuan sebenernya (bukan fotogenik).

Eeehh sekalinya pasang foto selfie jadi dp bbm (dimana biasanya dp-nya foto roti wkwkwkwk), langsung ada yang minta nomer telpon (temen kerja dulu, emang sempet tukaran pin bebe, soalnya satu kerjaan walau beda divisi, tapi ga tukeran nomer hape), langsung nelpon, di waktu solat tarawih. Nyata ga kuangkat, bukan karena waktu solatnya, tapi ngapain juga nelpon kan? Ga ada perlunya. Paling tanya kabar. Tidak perlu. Mending dia telpon anak ato istrinya karena notabene dinasnya di lapangan.

Ujung-ujungnya doi bbm, kurang lebih isinya begini, “maap mba, iya saya juga lagi mo taraweh kok. Maap ga sempet order kemaren, ini udah naik lagi ke lapangan…”

Nah, bener kan, tadi nelponnya paling emang cuma buat tanya kabar doank. Ga penting.

Dih, lantas mikir, emang bener kata-kata nasehat para alim ulama kalo selfie itu banyak mudharotnya. Mungkin aku harus betul-betul berhenti pasang foto muka. Tapi yang mukanya ga kelihatan gpp kali yak #negoπŸ˜€

Pernah baca-baca di ig Ummu-Ummu bercadar (niqab), kebetulan Ummu ini pahamnya cadar itu wajib. Terlepas apapun hukum cadar, dimana perbedaan pendapat yang terjadi adalah sunnah dan wajib, jangankan selfie, membuka wajah aja serem. Alasannya, cantik itu relatif. Maksudnya, di ikhwan A mungkin muka kita biasa aja, tapi siapa yang tahu di mata ikhwan B, C, D? Apa kita yakin wajah kita yang terbuka aman dari penyakit hati ikhwan yang memandang? Dalam hati orang siapa yang tahu?

Mungkin orang lain mikirnya, diiihhh sok kecantikan! Macam ratu aja!!

Lah, bukan kah memang seperti itu Islam memperlakukan perempuan? Tanpa memandang status sosial kita, apalagi bentuk fisik kita, dalam Islam, semua perempuan dimuliakan kan?
Dalam Islam, perempuan dikenal sebagai saudara, sister, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai madrasah pertama anak-anaknya. Bukan sebagai pacar, pemuas nafsu syahwat sesaat.

Kembali lagi, dalam hati orang siapa yang tahu kan? Yakin kah tidak ada ikhwan yang ga pake penyakit hati ketika memandang kita? Yakin semua mata bisa menjaga hatinya tetap bersih? Yakin? -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s